25 Februari 2010

Renungan Hamba

 Saya 'tergoda' untuk menuliskan lirik ini di blog saya. Isinya penuh makna dan renungan, bahwa kita 'selalu' menjadi hamba-Nya yang durhaka.

Nasyid by Missile - Renungan Hamba


Selalu kusesali dosa selalu kuulang kembali
dan kau masih memberi kebahagiaan kubukan hamba pilihan

ALLAH berfirman
wahai manusia…
AKU heran pada orang yang yakin akan kematian
tapi hidup bersuka ria

AKU heran pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat
tapi ia asik mengumpulkan dan menumpuk harta benda

AKU heran pada orang yang yakin akan kubur
tapi ia tertawa terbahak–bahak

AKU heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat
tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai santai

24 Februari 2010

Episode Keserakahan Dalam Jenak Kemiskinan

Kemiskinan ada dimana-mana. Ia ada di pasar, terminal, stasiun, pinggir jalan dan jembatan. Ia hadir di kota besar, juga ada di pedesaan. Ia ada di negara maju, kecil dan juga negara-negara berkembang. Ia menjadi sorotan. Ia ada dalam database dunia internasional, bahkan PBB sampai perlu membuat standarisasi dan definisi khusus tentang kemiskinan. Ia menjadi wacana intelektual, dibincangkan dari mulai masjid, hotel berbintang, pusat-pusat pemerintahan dan perkantoran hingga istana negara. Ia pun menjadi komoditas pencetak uang. Para pembuat program televisi pun memutar otak untuk ‘menjual’ kemiskinan lewat program-program semacam Bedah Rumah, Dibayar Lunas, Uang Kaget, Minta Tolong, Tukar Nasib, Pemberian Misterius, Tangan di Atas dan masih banyak program sejenis lainnya. Para politisi pun tak ketinggalan. Mereka menjadikanya sebagai ’komoditas utama’ pendulang suara ketika masa-masa kampanye. Mereka beramai-ramai menyatakan diri sebagai pembela “wong cilik”, pro-rakyat atau semacamnya.

23 Februari 2010

Menjadi hamba-Nya yang Wajar

Tidak lain dan tidak bukan disadari atau tidak, kita sedang menunggu, menunggu kematian. Tinggal kita pilih, seni kematian seperti apa yang kita inginkan, agar setelah kematian nanti kita mampu hidup kembali. Ya.. hidup dengan kehidupan yang kekal, entah kekal di neraka dengan siksa-siksa-Nya, atau kekal di syurga ditemani bidadari-bidadari bermata jeli.

Wafat, nikah, bencana, rezki, dll hanyalah misteri dari Allah yang setiap kita diminta untuk mengimaninya. Dan dengan itu, kita mampu memaknai kehidupan ini dengan menjadi hamba-Nya yang sesuai dengan kewajaran seorang hamba. Hamba layaknya melati yang dengan putihnya, ia senantiasa bertasbih bersama wewangian yang terpancarkan. Layaknya barisan semut yang selalu dalam ketaatan beribadah sesuai dengan ilham yang ada padanya tanpa ada niatan sedikitpun untuk mencoba bermaksiat.

Dan kita manusia, pun diperintahkan demikian.. diminta menjadi hamba-Nya sesuai dengan kewajarannya, sesuai dengan kapasitasnya. Akan tetapi, entah mengapa... banyak dari kita banyak melanggar kewajaran tersebut, bahkan secara terang-terangan.. Apakah memang melanggar dari sebuah kewajaran seorang hamba masuk dalam kategori 'kefitrahan' manusia itu sendiri? Semoga saja tidak, karena memang yang disebut kefitrahan itu adalah menjadi hamba-Nya yang wajar. Wajar dalam perspektif Rabbaniyah, bukan dalam perspektif nafsu manusia. Karena manusia memang tercipta sesuai dengan spesifikasi yang sudah diperhitungkan agar sesuai kewajaran. Hingga jika ada manusia-manusia yang diluar kewajaran sebagai seorang hamba, bisa disebut sebagai manusia yang tidak wajar. Semoga kita termasuk manusia yang wajar.

15 Februari 2010

Belajar Kesederhanaan dari Mus’ab Bin Umair

Jasadnya terbaring berlumur darah terkubur di tanah Uhud. Kakinya ditutupi rumput-rumput harum, sebagian badannya hanya ditutupi selembar kain yang tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya. Jika kain itu ditarik ke atas untuk menutupi kepalanya, maka kakinya akan terlihat, juga sebaliknya jika kakinya yang ditutupi, maka kepalanya akan menyembul keluar. Ia yang dulunya adalah anak kesayangan sang ibunda, diberi pakaian paling mahal. Harum parfumnya yang khas menyebar ketika dia berjalan, bahkan sebelum ia menampakkan diri, wanginya sudah bisa tercium dalam radius puluhan meter. Ia yang dulunya menjadi pembicaraan wanita-wanita muda di Makkah, menjadi idola dan diidolakan pemuda pemudi di kota itu. Ia seorang pemuda paling flamboyan di kalangan kaum muda Quraish. Ia meninggalkan semua hal keduniaan itu untuk pergi memenuhi panggilan Allah dan mencari ridhaNya. Ia, Mus’ab bin Umair bin Hashim bin Abd Munaf atau yang dikenal sebagai Mus’ab al Khair.

04 Februari 2010

Strategi Syetan

Kisah ini membuat kita tersadar, bahwa tidak selamanya syetan membisikkan hal-hal yang buruk untuk melakukan keburukan, namun lebih daripada itu, mereka akan membisikkan dan menggoda kita dengan hal-hal yang baik untuk melakukan keburukan. perlahan dan halus....
--------------------------

Ada seorang ahli ibadah (‘Abid) dari kalangan Bani Israil, yang merupakan ahli ibadah pada masanya.

Tersebutlah tiga bersaudara yang memiliki satu-satunya saudara perempuan yang masih perawan. Suatu ketika, ketiga orang ini ingin pergi ikut berjihad di jalan Allah namun mereka tidak tahu kepada siapa saudara perempuan mereka itu akan dititipkan dan mendapatkan tempat yang aman padahal orang tua mereka sudah meninggal dunia. Lalu bersepakatlah mereka untuk menitipkannya kepada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil tersebut sebab hanya dia yang mereka percayai

03 Februari 2010

Berbagi di Atas Pusaran Kemiskinan

”.... dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung....” (Al Hasyr: 9)

Menelisik ke belakang, memperhatikan bagaimana asbabun nuzul dari proses turunnya  ayat di atas. Ketika itu datanglah menemui sang Baginda Nabi, seorang lelaki Muhajirin yang tengah kelaparan. Rasulullah segera mengirimkan utusan untuk meminta makanan kepada para istrinya. Namun yang didapat hanyalah segelas air minum. Hingga kemudian Rasulullah berseru kepada para sahabat, ”Barangsiapa yang malam ini berkenan menjamu orang ini, niscaya Allah akan merahmatinya.”