Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

22 April 2011

Liberalisme di Indonesia

Mukadimah
Isu tentang Islam liberal sering disalahpahami. Seolah-olah isu ini dikaitkan dengan JIL (Jaringan Islam Liberal). Kelompok JIL muncul pada tahun 2001. Sejak itulah umat Islam gempar dengan isu-isu yang disebarkan JIL melalui berbagai media.  Gerakan JIL memang terlihat sangat agresif. Mereka punya situs yang aktif, punya radio 68H yang direlay oleh ratusan radio di daerah. Ada lebih dari 60 koran yang bekerja sama dengan mereka.
Karena banyak kalangan umat Islam yang terpaku pada kelompok JIL saja. 

Maka ketika JIL sudah tidak terlalu aktif lagi kita pun menyangka bahwa gerakan liberal juga sudah berkurang dan berhenti. Padahal JIL itu hanyalah satu dari ratusan bahkan mungkin ribuan pengasong ide-ide liberal di Indonesia. Jadi JIL itu hanya asongan. Dia pengecer. Ada liberalisasi yang lebih serius yaitu liberalisasi di tingkat distributor.

Nah, distributor ini yang paling penting untuk dicermati. Meskipun para pengecer juga penting. Karena mereka yang ada dipinggir-pinggir jalan, nulis di koran-koran, muncul di media, nulis buku, yang seperti inilah yang mudah berinteraksi dengan masyarakat.

Latar Belakang Munculnya Gerakan Liberal

Apa sebenarnya yang dimaksud liberal? Kenapa bisa ada istilah Islam Liberal? Islam Liberal itu sebenarnya foto kopi. Saya mengatakan foto kopi karena mengambil dari istilah “Yahudi Liberal”. Kurang pas, sebenarnya, jika “liberal” ditempelkan pada Islam. Sebab Islam itu tidak bisa ditambahkan embel-embel lagi di belakangnya. Kalau Islam ditambahkan embel-embel di belakangnya, maka akan mengurangi kesempurnaan Islam itu sendiri. Misalnya ada istilah Islam Moderat, Islam Inklusif, Islam Pluralis, Islam Rasional, dsb. Istilah tambahan itu akan mereduksi nilai-nilai dari Islam yang sudah sempurna.

Istilah “Islam Liberal” pertama kali dipopulerkan oleh seorang profesor dari Chicago, ia orang Yahudi, namanya Prof. Leonard Bailerd. Profesor pakar politik ini menggunakan istilah Islam Liberal karena mengikuti istilah Liberal Yudaism yang sudah ada sebelumnya.

Gerakan liberal di kalangan Yahudi memang berkembang lebih dulu pada abad 19 di Jerman. Salah satu tokohnya Abraham Kaiger. Dia menulis buku berjudul “What it Borrow Muhammad From Yudaism” (Apa yang Muhammad Pinjam dari Yahudi). Kaiger ini merupakan tokoh Yahudi Liberal yang terkenal waktu itu.

Jadi kalau mau tahu apa sich sebenarnya ide Islam Liberal, maka lihat saja bagaimana Yahudi Liberal. Dari Yahudi Liberal inilah kemudian di kopi ke dalam ide Islam Liberal. Sebelum masuk ke dalam Islam, ide Yahudi Liberal ini sebenarnya telah lebih dahulu dikopi oleh Kristen Liberal.

Kenapa Mereka Ingin Meliberalkan Agamanya?

Sebetulnya sederhana sekali cara berpikirnya. Setelah barat Eropa masuk ke jaman modern, yaitu jaman renaisance, maka mereka kemudian menyingkirkan agama dalam kehidupan mereka. Mereka trauma. Sejarah Eropa itu adalah sejarah trauma terhadap campur  tangan agama terhadap kehidupan.

Kalau kita pernah dengar bagaimana Paus itu punya kekuasaan yang sangat besar di Eropa. Seluruh aspek kehidupan mereka kuasai. Maka politik mereka disebut theokrasi. Theo itu tuhan, kratos itu kekuasaan. Politik Kekuasaan Tuhan. Kenapa mereka bilang sistem politik di eropa kekuasaan Tuhan/theokrasi? Karena kekuasaan itu disahkan oleh wakil Tuhan, yaitu para pendeta dan paus.

Jadi kalau kita memahami ajaran katolik, paus itu punya sifat infeliblity, ma’sum. Paus itu tidak pernah salah. Ketika mereka berkuasa, ternyata yang terjadi di masyarakat tidak seperti itu. Ternyata Paus pernah berbuat salah. Bahkan kemudian banyak terjadi penindasan-penindasan terhadap masyarakat.

Akhirnya terjadi di Eropa sebuah gerakan, gerakan zaman baru, zaman rasional. Dimana mereka kemudian memusuhi agama. Muncul satu gerakan yang  disebut gerakan antiklerikalisme. Orang-orang eropa jadi benci kepada tokoh-tokoh agama. Jadi sederhana faktornya, ketika agama berkuasa maka rakyat tidak aman. Paus dan pendeta bersekutu dengan penguasa-penguasa dzalim yang menindas rakyat. Ilmuwan-ilmuwan juga dimusuhi dan dibunuh secara kejam.

Nah, dari sini muncul tokoh seperti Martin Luther yang melakukan gerakan reformasi terhadap gereja. Lebih jauh lagi kemudian muncul gerakan sekuler. Gerakan anti agama. Mereka ingin membuang agama dari kehidupan. Bahkan pada saat revolusi Perancis (1789) banyak pendeta yang dibunuh.

Gerakan revolusi di Eropa salah satunya dimotori oleh Freemasonry. Fremasonry didirikan di Inggris tahun 1717. Freemasonry punya misi dengan semboyan “Liberty, Egality, Pretenity” (Kebebasan, Keseteraan, Persaudaraan). Kebebasan disini adalah bebas dari agama. Maka sejak itu masyarakat Eropa tidak mau diatur agama lagi. Agama bagi mereka telah membuat mereka mundur terbelakang. Maka setelah renaisance mereka mulai bangkit. Renaisance artinya lahir kembali. Setelah melepas agama, mereka merasa terlahir kembali.

Di Amerika sangat mengedepankan semboyan-semboyan freedom (bebas). Bebas dari agama. Contoh simbol kebebasan mereka adalah adanya patung Liberty. Inilah yang melatar belakangi munculnya gerakan-gerakan liberal. Bebas dari aturan agama. Freemasonry juga yang memotori gerakan revolusi di Amerika tahun 1776. Tokohnya adalah Goerge Washington dan Thomas Jeperson.

Masuknya Gerakan Liberal Ke Indonesia

Freemanson akhirnya masuk ke Indonesia tahun 1764 (sebelum revolusi Amerika) dibawa orang-orang Belanda. Dimana orang-orang Belanda ini banyak yang menganut Kristen Protestan yang menentang Kristen Katolik. Mereka ingin menanamkan nilai-nilai kebebasan seperti yang telah mereka anut di barat yaitu peradaban anti agama yang maju dan modern. Jadi inilah gerakan liberal. Gerakan dimana mengganti agama dengan nilai-nilai baru yang bukan berasal dari agama.

Sebenarnya persoalan agama di Eropa bukan hanya dihadapi Islam. Tapi juga agama Kristen. Barat yang menganggap agama sebagai urusan personal menyebabkan berkurangnya penganut agama Kristen di sana. Gereja-gereja sepi bahkan banyak yang berubah menjadi bar atau tempat shoping.

Contoh kasus yang banyak dilakukan kaum liberal ini adalah mengenai maraknya homoseksual. Padahal di dalam bibel sendiri pelaku homo ini dilarang dan mendapat hukuman yang berat. Pelaku homo dan lesbi, di dalam bibel, dihukum mati. Tapi pada tahun 2003 sudah ada homo yang menduduki jabatan sebagai Uskup di Amerika. Gereja homo sekarang berkembang di Amerika dan Inggris.

Dalam ajaran Yahudi juga sama, kaum homo itu dihukum mati. Namun sekarang banyak sinagog yang menggunakan istilah Sinagog Liberal. Sinagog Liberal ini berbeda dengan sinagog pada umumnya. Punya tempat dan ritual ibadah berbeda dan mereka juga sudah kawin sesama jenis (homo).

Gerakan homo seksual juga sudah marak di Indonesia. Mereka sudah tidak malu lagi menunjukan dirinya. Tampil di tv dan dengan bangga memproklamirkan bahwa mereka adalah kaum homo. Di UNAIR ada dosen homo dan sudah terang-terangan, kalau mengajar, mengatakan dirinya telah menikah dengan laki-laki (sesama jenis). Di UI juga ada dosen lesbi. Dia seorang doktor dan terang-terangan mendukung lesbian. Di UIN pun ada profesor yang mendukung homo dan lesbi namanya Prof. Musdah Mulia.

Di IAIN Semarang ada jurnal yang sering menulis tentang homo dan lesbi ini. Sejak tahun 2004 itu sudah ada laporan utama dengan tagline Indahnya Kawin Sesama Jenis. Tulisan-tulisan di jurnal tersebut sangat berbahaya karena menafsir ulang ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan ada buku berjudul Homoseksuality in Islam dimana bab pertamanya membahas tentang meliberalkan Qur’an. Mereka menggagagas Syariah Revolution,. Syariat islam itu direvolusi karena tidak ada syariah yang tetap (absolut). Syariah itu mengikuti jaman. Menurut mereka agama yang melarang homo adalah agama yang sudah ketinggalan jaman. Sebab melanggar HAM.

Berbagai Bentuk Liberalisme Di Dalam Islam

Jadi intinya, liberalisasi adalah gerakan menjadikan agama baik itu Kristen, Yahudi, maupun Islam sesuai dengan perkembangan jaman. Itu saja. Contoh lain misalnya, dalam syariat, mereka membolehkan kawin lintas agama.  Jadi ada banyak hal yang harus dibahas menyangkut liberalisasi ini. Misalnya menyangkut liberalisasi syariah. Mereka ingin mengganti ushul fiqh dengan hermeneutika.

Yang kedua adanya liberalisasi Al-Qur’an. Mereka coba menanamkan pemahaman bahwa Qur’an ini adalah produk budaya. Ada buku judulnya Metodologi Studi Alqur’an yang ditulis oleh tokoh liberal Ulil Absor dan doktor Muqsid Ghazali. Di dalam buku tersebut jelas tertulis, “Al-Qur’an ini sudah salah sejak awal”.  Bahkan Ulil menuliskan bahwa di dalam Qur’an ini ada ayat-ayat yang salah.

Yang paling serius adalah liberalisasi dari sisi akidah, yaitu munculnya paham pluralisme. Tokohnya adalah Nurcholis Majid (sudah meninggal). Paham pluralisme ini sudah mendapat fatwa haram dari MUI. Bahkan tahun 2005 Gereja Vatikan sudah mengeluarkan dekrit yang melarang paham pluralisme agama. Paham ini membenarkan semua agama.
Di beberapa perguruan tinggi banyak yang mengganti metode pendidikan agama yang dirintis para ulama jaman dulu. Sekarang banyak program studi lintas agama. Di IAIN Surabaya sudah sepuluh tahun kuliah lintas agama ini berlangsung. Bahkan ada program kuliah gratis untuk program doktor lintas agama. Ironisnya banyak ustad-ustad dari pesantren dan dosen-dosen agama yang kuliah di sana.

Kemudian munculnya pemahaman keseteraan Gender. Ini juga gerakan sistematis liberal yang bisa menghancurkan keluarga muslim. Karena mereka tidak menginginkan kepemimpinan laki-laki di dalam rumah tangga. Mereka ingin setara semua. Dan gender ini jadi program resmi pemerintah saat Gusdur jadi presiden. Dia mengeluarkan inpres tentang kesetaraan gender. Seluruh program pembangunan wajib berwawasan gender. Seluruh universitas harus ada pusat studi gender.

Khotimah

Jadi upaya meliberalkan Islam ini memang kenyataan yang harus kita hadapi. Gerakan ini masih ada dan terus bergerak. Tidak hanya dilakukan oleh non muslim tapi juga oleh pemuka-pemuka agama Islam itu sendiri. bagaimana kita menghadapinya? Perang melawan gerakan liberal adalah perang ilmu, perang dalil, kuat-kuatan strategi, kuat-kuatan argumen, dan kuat-kuatan akidah.

Jadi sekarang, kita harus terus meningkatkan pemahaman kita terhadap Islam yang benar. Jadikan serangan liberal ini sebagai cambuk agar kita bisa berbuat lebih baik lagi. Jadikan kenyataan adanya Islam Liberal ini sebagai cermin agar kita lebih serius mendalami ajaran Islam secara benar dan kaffah. Jika kita serius, yakinlah kita akan bisa menang melawan arus liberaslisme meskipun mereka punya sokongan dana dan kekuatan yang besar.

Penceramah: Ust. Adian Husaini
Ditulis Oleh Rahmat HM

21 Maret 2011

Surat dari Lampung (2)

Perjalanan ini memang terasa panjang, dan masih akan panjang. Kita boleh singgah sejenak untuk sekedar berteduh, istirahat atau sesekali melihat pemandangan yang indah. Namun janganlah terlena dengan kenyamanannya, janganlah terpesona oleh keindahannya, hingga kita memutuskan untuk tinggal di tempat singgah kita. Karena tempat kita bukanlah di situ, tujuan kita masih jauh dan masih akan banyak hal-hal yang belum kita temukan akan kita lalui. Marilah terus bergerak, karena diam adalah statis. Teruslah berjalan, karena berhenti adalah kebekuan. Statis dan kebekuan yang hanya akan mendatangkan kematian. Kematian hati, amal bahkan peradaban.

Apa kabar saudara-saudaraku? Semoga kita senantiasa dalam jamaah harokah yang terus bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Semoga kita senantiasa berada dalam agenda-agenda dakwah yang penuh berkah. Bukan sempalan-sempalan yang hanya diam. Bukan kritikus-kritikus tanpa perubahan. Dan bukan benalu-benalu yang selalu menjadi beban berat dari keberlangsungan dakwah.

Saudaraku, sedikit ingin kugambarkan bagaimana kita memang telah terpilih oleh Allah untuk memikul amanah ini. Kita yang memang seharusnya menjadi 'Generasi' yang dijanjikan Allah itu. Bukan malah menjadi generasi yang 'keluar' kemudian digantikan oleh generasi yang lebih baik generasi 554 (Al Maidah: 54). 

Inilah kita. Kita yang terdidik melalui rahim-rahim tarbiyah. Melalui lingkaran-lingkaran penuh berkah dan ketaqwaan. Barisan-barisan yang selalu siap apabila datang seruan genderang perang. Dan memang sudah selayaknya kita harus senantiasa bersiap-siaga, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

04 Maret 2011

Untuk Para Pejuang Dakwah Sekolah

Kami, dilahirkan dari rahim hangat da'wah sekolah. Diasuh oleh ketulusan para mentor dan murobbi sekolah membuat kami mampu tegak berdiri menghadapi berbagai permasalahan tdk hanya di dunia sekolah tapi juga di dunia mahasiswa.

Hingga kini kami bertahan...
Fabi ayyi 'ala I robbikuma tukadziban !

Da'wah, rasanya bisa dikatakan menjadi tempat dimana semua keterbatasan ada, keterbatasan SDM, keterbatasan dana,keterbatasan waktu, bahkan terkadang keterbatasan izin orangtua. Namun ternyata da'wah mampu mengalirkan keberlimpahan cinta untuk sesama, keberlimpahan inspirasi, dan keberlimpahan cahaya yang mencerahkan.

Tak perlu jauh mencari bukti, di dekat, bukti itu adalah kami, juga kalian. Di tempat yang jauh, bukti itu tersebar dari Gaza hingga Papua, torehan peristiwa ajaib yang memukau kehidupan. Bacalah-carilah, kelak bukti itu akan membuat kita bersyukur pernah disentuh oleh da'wah.

Da'wah selalu mencerahkan. Dan istimewanya,dDa'wah sekolah selalu mendapat kesempatan pertama untuk mencerahkan manusia,

Itu karena da'wah sekolah berhadapan dengan para manusia belia, para calon pelanjut generasi bangsa yang tulang belulangnya masih kokoh berdiri, yang senyumannya masih secerah mentari pagi.

Tak usah menunggu tua untuk melihat perubahan, di sekolah yang di'cerahkan', musholla selalu tampak penuh dengan jejalan putih abu di jama'ah dhuha. Kemeja siswa tampak menggembung diisi mush'af, tahajjud bersama pun digelar. Dengungan tilawah dan hapalan menembus telinga yg masih ada setitik keimanan

Bukan itu saja, Belia-belia putih abu istimewapun terlihat dari kesantunannya berbicara, kejujurannya saat ujian, kekokohannya menjaga harga diri, kebaikan akademisnya, kehebatannya membagi waktu dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Sungguh, Keberkahan yang Allah lahirkan dari da'wah sekolah telah mampu mengobati zaman yang telah luka berdarah-darah, Oleh tawuran pelajar, Oleh pergaulan bebas pelajar, Oleh pornografi pelajar, Oleh akhlak hina pelajar, Oleh kecurangan pelajar, Oleh hedonisme pelajar. 

Da'wah sekolah yang digadang-gadang siang malam oleh saya, kami,kalian, dan ribuan aktivis da'wah sekolah lainnya. Telah mampu membuat jalinan mimpi indah tentang negeri yang 'baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur ' itu terajut kembali.

Bahwa harapan itu masih ada. Bahwa waktu sela kehadiran azab Allah itu masih bisa dipanjangkan...

Fabi ayyi 'ala I robbikuma tukadzibaan
Maka ni'mat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan..

Tak mampu kami hidup tanpa da'wah, telah kami dan kalian ikrarkan, telah kami dan kalian buktikan, telah kami dan kalian perjuangkan. Pusaran da'wah yang indah telah membuat kelelahan langkah kita tak lagi bermakna. Manisnya iman dan ukhuwah telah membuat habisnya uang, habisnya waktu kita tak lagi punya arti.

Kita percaya bahwa da'wah telah menyirami keimanan manusia, dan iman sejak kehadirannya selalu mampu merubah apa saja. Bahwa iman selalu membawa jutaan cerita ajaib dalam kehidupan, bahwa iman mampu membuat kita bertahan dan lebih berdaya.

Jadi Wahai Adik, Tetaplah berjuang, bertahan,berpegangan tangan. Kelak kalian akan saksikan, ada dunia baru yang Allah berkahi,yang tentram dan indah. Yang akan kita wariskan untuk manusia-manusia baru yang tak lain adalah anak-cucu kita sendiri.

Jadi Wahai Adik, jangan pernah berhenti. Karena berhenti berarti mati. Karena berhenti berarti hidup tanpa cahaya.

Wahai Adik, Sungguh, langkah kaki kalian selalu kami doakan. Agar Allah mudahkan, Agar Allah sucikan dari kepentingan dunia, Agar Allah menjaga keberkahannya

Kami juga kalian, dilahirkan dari rahim hangat da'wah sekolah. Diasuh oleh ketulusan para mentor dan murobbi membuat kami dan kalian mampu tegak berdiri bertarung dengan 'keangkuhan zaman'

Di hati kita ikrarkan : Allahu Ghoyatuna ! Karena Allah saja
Hingga kini kami dan kalian bertahan...


------------
Islam Media

25 Februari 2011

Khoiro Ummah

Kita yang terbangun dari tinta hitam pena para ulama. Kita yang terbentuk dari merah segar darah para syuhada. Kita yang belajar dari khalifah Umar yang membawa Islam ke ujung Andalusia, atau Ibnu Sina sang pelopor kecerdasan umat manusia,  hingga Khawarizmi dan angka matematika-nya yang menginspirasi sepanjang masa.

Kita bukanlah kumpulan domba yang terkutuk yang siap menjadi mangsa para serigala. Kita juga bukan kumpulan busa di tengah laut yang mudah terombang-ambing dihempas sang ombak. Seharusnya, kita tak mudah diadu domba sehingga saling mengkafirkan satu dengan lainnya.

Kita, Ummat yang terbaik yang diturunkan untuk manusia. Membawa berkah dan rahmat bagi semua alam. Berjalan dengan anggun dan mempesona. Sekuat baja namun selembut melati. Tegas namun penuh cinta. CInta yang berasal dari Penguasa alam semesta.  Kita telah bertransaksi, menjual diri kita dengan syurga-Nya. Kita tak'kan mati. Karena mati yang sesungguhnya adalah kehidupan kita.

15 Februari 2011

Adalah Kader


Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar
(Annisaa: 95)

Adalah kader, mereka yang berada pada barisan awal dari dakwah. Menjadi motor penggerak dari dakwah. Ia berada di garis terdepan dari amar ma'ruf nahi munkar. Bergerak dengan jamaah kader yang lain, konsisten tanpa ada rasa lelah. 

 Dakwah harus dikemas dengan baik, indah dan cantik. Seperti mobil Alphard, Veriville atau Elgrand. Indah dipandang mata. Itulah karakteristik umum dakwah. Namun keindahan itu tidak dapat bergerak tanpa adanya mesin-mesin di dalamnya. Mungkin kita akan takut kalau sebuah Alphard bergerak tanpa boddy, meskipun dengan begitu, Alphard tersebut masih bisa difungsikan dan dijalankan. Dan sebaliknya, Alphard tersebut tidak bisa berjalan kalau hanya boddy-nya saja yang ada. Itulah kader. Menjadi penggerak dari keindahan dakwah. Meski kader itu sendiri tidak indah untuk dipandang

Dan mesin itu harus bekerja ekstrak keras agar roda dakwah beserta bangunannya bisa berjalan dengan baik. Jika memang mesin itu rusak, tentunya harus diperbaik, service atau bahkan kalau memang rusaknya sudah akut, maka harus diganti. Begitulah kader. Tiap pekan pun harus diisi batereinya. Ruhiyyahnya pun diperhatikan, agar tidak mudah rusak atau sampai mogok dari dakwah.

Ia-pun harus ditempa dengan pupuk dengan waktu yang cukup lama. Seperti pohon rambutan, mangga atau durian. Tumbuh dan berbuahnya lama, namun sekali berbuah akan banyak menghasilkan dan ia akan menghasilkan buah lagi setelah berbuah. Itulah kader. Berbeda dengan pohon toge, yang tumbuh dan berbuah cepat dalam waktu satu-dua pekan tetapi mati-nya pun cepat.

Adalah kader, ia konsisten, berjamaah dan bergerak dalam barisan yang teratur. Karena Allah akan membedakan mereka yang duduk-duduk saja dengan orang-orang yang berjihad. Jadi, anda pilih yang mana?

26 Januari 2011

Profil Kader Dakwah SMAN 49 (4)

Alumni
Tahun ke-1

Profil: Murabbi, Pengelola Da’wah di SLTP, Adaptasi Kampus/ Dunia Kerja.
Target Dakwah (Intensifikasi Kader): Terjadi percepatan pemahaman fikrul Islami, dakwah dan harakah, termasuk berbagai aliran politik dan ideologi, Terjadi percepatan kemampuan sebagai trainer, pelatihan skill, organisasi, murabbi, mudarib mukhayam, dsb. Terjadi percepatan kader muballig/muwajjih tablighi dan murabbi dan    Memiliki wawasan yang sempurna mengenai dakwah sekolah.

Tahun ke-2
Profil: Murabbi, Pengurus IAR SMAN 49 Jakarta, Staff pengurus organisasi kampus.
Target Dakwah (Intensifikasi Kader): Kelanjutan percepatan pada Alumni Tahun ke-1.

Tahun ke-3
Profil: Murabbi, Pengurus inti IAR SMAN 49 Jakarta, Pengelola organisasi di kampus.
Target Dakwah (Intensifikasi Kader): Kelanjutan percepatan pada Alumni Tahun ke-2.

16 Januari 2011

Profil Kader Dakwah SMAN 49 (2)

Kelas XI SMA
Profil:
Pelaku utama perubahan.
Kelas XI merupakan pelaku utama perubahan dalam sekolah karena mereka adalah pengurus inti berbagai organisasi formal dan informal di sekolah. Intensitas interaksi mereka secara formal dan individual lebih kuat ke segenap elemen sekolah: siswa, guru, karyawan sekolah, dsb.

08 Januari 2011

Profil Kader Dakwah SMAN 49 (1)

Kelas X SMA:
Profil:
Objek utama perubahan.
Siswa kelas X adalah obyek utama dakwah. Karena ia memiliki potensi hanifiyah yang relatif lebih tinggi, belum terkontaminasi, adanya perasaan sebagai yunior/ anak baru, belum banyak kesibukan, tekanan akademik yang relatif masih ringan dibanding kakak kelasnya di kelas XI & XII.

18 Mei 2010

Sekedar Goresan kegelisahan menyongsong Indonesia bebas RIBA

Berbicara tentang perekonomian, sangat erat kaitannya dengan ketahanan suatu negara.  Jika perekonomian itu berada pada stagnan yang baik, maka bisa dipastikan eksistensi negara tersebut akan stabil.  Namun memasuki zona system perekonomian, tidaklah semudah yang dibayangkan, sangatlah bervariatif dan berkompetisi.

Jejak Pertama, Meniti Jalan Ekonom Rabbani

Kita telah sering sekali merasainya. Ketika kekuatan ruhiyah dan penjagaan aktivitas ruhiyah yang mengantarkan kita kepada kelapangan jiwa. Hanya saja kita, terlebih saya, di tengah-tengah kesibukan yang bertumpuk terlena dan terlalai. Malah biasanya, kesibukan itulah yang menjadi permakluman untuk sedikit mengendurkan aktivitas ruhiyah. Inilah yang sering terkata, little things mean a lot. Hal kecil yang berdampak besar.

17 Mei 2010

Pernyataan Sikap FoSSEI terkait BUNGA Bank

PERNYATAAN SIKAP
FORUM SILATURAHIM STUDI EKONOMI ISLAM
DALAM AKSI SIMPATIK KAMPANYE NASIONAL 2010
“INDONESIA BEBAS RIBA”
15 Mei 2010
 
Penyebab krisis keuangan global yang sempat berdampak bagi ekonomi Indonesia adalah praktik riba, maysir, dan gharar sebagai fenomena kapitalisme baik di pasar uang maupun pasar modal. Ekonomi kapitalisme dengan mekanisme bunga tidak memisahkan sektor moneter dan riil sehingga menyebabkan penciptaan bubble economy yang sangat rawan dan menimbulkan krisis. Sedangkan ekonomi Islam tidak memisahkan sektor moneter dan sektor riil dengan mekanisme bagi hasil.
 
Pemerintah diharapkan lebih akomodatif terhadap ekonomi Islam, karena ekonomi Islam memiliki konsep yang unggul dalam mewujudkan kesejahteraan, stabilitas ekonomi dan inflasi. Sementara masyarakat diharapkan mulai menerapkan ekonomi Islam dalam kesehariaan, mulai bertransaksi secara jujur, meninggalkan bunga dan meningkatkan kepedulian terhadap sekitar dalam rangka menciptakan kesejahteraan bersama. Jika Indonesia masih berkiblat kepada ekonomi kapitalisme, maka yakinlah Indonesia pasti akan terancam krisis terus-menerus sepanjang sejarah.
 
Berdasarkan kondisi tersebut, melalui momentum Kampanye Nasional (KAMNAS), Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) yang tersebar di seluruh Indonesia menyatakan sikap:

1.     Mengajak seluruh masyarakat untuk meninggalkan segala jenis transaksi yang menggunakan bunga
2.     Mendesak pemerintah untuk mengembangkan lembaga keuangan yang bebas bunga melalui regulasi dan kebijakan yang memihak
3.    Mengajak seluruh masyarakat untuk bertransaksi secara adil, jujur dan tidak saling merugikan
4. Mengajak seluruh masyarakat untuk peduli terhadap sekitarnya dalam mendukung pengembangan sistem ekonomi berbasis tanpa bunga
5.  Mendesak pemerintah untuk memasukkan ekonomi Islam dalam kurikulum pendidikan nasional, dalam rangka pengembangan sistem ekonomi tanpa bunga
6.   Mendesak pemerintah untuk turut berpartisipasi dalam upaya pengembangan lembaga sosial berbasis ummat
7.     Mencanangkan 13 Mei sebagai HARI BEBAS RIBA
 
Demikian pernyataan sikap kami, semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada kita dan Indonesia Bisa Tanpa Bunga, Allahuakbar! Hidup Ekonom Rabbani!
 
Jakarta, 15 Mei 2010


Presidium Nasional FoSSEI


Rekam Jejak Intelektual Muda Ekonomi Islam

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS Al-Kahfi : 13)

Jikalau mengenang kembali sejarah perkembangan Ekonomi Islam di Tanah Air, kita tidak akan pernah dapat melepaskan peran mereka, para pemuda yang meneguhkan eksistensinya dengan berjuang mensosialisasikan Ekonomi Islam di balik kelas-kelas kampus, seminar demi seminar, kajian bahkan terjun seperti semut ke masyarakat. Pemuda-pemuda itulah yang kemudian kita sebut mahasiswa, sang inisiator masyarakat rabbani. Mereka yang berbekal semangat dan idealisme menjadi motor yang seolah tidak pernah kehabisan energinya. Bahkan, keterbatasan yang mereka miliki, seolah tidak pernah menjadi penghalang bagi bergeraknya mereka. Tanpa ruang, alam terbuka menjadi tempat yang begitu nyaman. Minus dana bukan menjadi alasan untuk tidak berdiskusi dan bergerak. Sejarah itu bermula dari diskusi-diskusi sederhana, kecil, singkat, dan dengan segala keterbatasannya, hingga tanpa terasa langkah-langkah mengikhtiarkan kontribusi mulai dirintis. Bersamaan dengan itu, mereka senatiasa membawa serta cita-cita yang bisa jadi tidak banyak orang mencita-citakannya.

10 Tahun FoSSEI: Meniti Jalan Ekonom Rabbani


Hari ini, adalah sepuluh tahun pergerakan FoSSEI. Telah banyak catatan yang digoreskan oleh pena perjuangan membubuh dalam sketsa sejarah. Ada catatan-catatan yang menguatkan iman, ketika kita membumikan Islam dalam aktivitas keseharian (baca: ekonomi). Maka kita pun sering kali menemukan konsep indah, bersyukur dan bersabar, dalam ekonomi kita. Sementara, pernahkah engkau mendengar Adam Smith atau J.M. Keynes berbicara tentang keduanya?

Tugas Ekonom Rabbani: Mewujudkan Indonesia Tanpa Riba

Indonesia kini tengah menghadapi masalah serius dalam sistem ekonomi yang diterapkan oleh hampir seluruh rakyatnya. Sistem ekonomi warisan belanda yang masih menggunakan bunga dalam setiap transaksi jual beli maupun hutang-piutang memberikan suatu konsekuensi jangka panjang yang sangat merusak sistem ekonomi secara keseluruhan. Perputaran uang yang menggunakan bunga (riba) dapat menimbulkan inflasi, ketidakstabilan ekonomi, dan peningkatan utang luar negeri diluar batas rasional. Bahkan akibat riba, hutang pemerintah Indonesia kini mencapai 180,7 milliar dollar, karena setiap tahun tingkat bunga yang harus dibayar semakin meningkat. Bukankah bunga yang berlipat ganda dilarang oleh Islam? Apa yang harus dilakukan oleh seorang ekonom rabbani ketika situasi ini semakin tak dapat dihindarkan?

23 April 2010

Mukhoyam: Tumbuhkan Semangat Baru

oleh: Abdul Azis Darji

Semula mukhoyam menjadi ”momok” menakutkan yang terlintas dalam lintasan pikiran, ini lantaran ketika disebut mukhoyam yang tergambar adalah: outbont yang banyak menguras tenaga, longmach, tidur dihutan, makan yang apa adanya, lebih-lebih kali ini mukhoyam diadakannya bertepatan dengan musim hujan, menambah rasa takut dan kekhawatiran yang menyelimuti relung hati.

13 April 2010

Mukhoyyam: Simulasi Jalan Dakwah

Meskipun sering mendengar istilah mukhayam, dan usia tarbiyah ana sudah 6 tahun, namun baru pertama kali ini ana ikut mukhayam, sebuah perangkat tarbiyah, yang menurut gambaran ana merupakan uji fisik dan mental, sebentuk simulasi bagaimana perjalanan amal jihad.

07 Oktober 2009

Manajemen Gerakan Pemuda

Manajemen Gerakan Pemuda


Setiap gerakan yang revolusioner dan mengguncang dunia tiada pernah terjadi tanpa ada peran dan campur tangan para pemuda di dalamnya. Setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas serta terarah terutama di basis pemudanya.
Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik yaitu masalah dana, namun hal itu biasa dan terjadi di mana-mana, di setiap waktu dan tempat. Gerakan pemuda boleh miskin materi, tetapi jiwanya kaya, sehingga pantang menyerah dan mengeluh. Mereka tidak mengorbankan iffah, kehormatan diri, hanya untuk meminta-minta, karena pemuda perintis dan pelopor pergerakan yang berhasil adalah mereka yang bermental baja. Setiap pergerakan disusun, dirancang, dan dilaksanakan dengan demikian baiknya, mengabaikan kendala-kendala yang ada. Sebenarnya apa yang seharusnya dibutuhkan dalam setiap gerakan pemuda?

06 Oktober 2009

Kita, Generasi Kerdil… Emangnya Gue Pikirin

Kita, Generasi Kerdil… Emangnya Gue Pikirin


“Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan.
Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya.
Dalam setiap fikroh, pemuda adalah pengibar panji-panjinya”
Hasan Al banna



“Zaman baru telah lahir, namun hanya melahirkan generasi kerdil.” Gitulah kira-kira Schiller, seorang penyair dari Jerman menggambarkan era generasi kita, yang katanya generasi millennium. Nggak usah jauh-jauh ngeliat generasi kerdil di Jerman yang dilukiskan si Schiller itu, kita liat sejarah bangsa kita saja makin lama makin bikin bingung, terperangkap kejumudan dan makin terperosok jauh ke dalam labirin ketidakpastian. 64 tahun merdeka, tapi kemerdekaan yang sebenar-benarnya merdeka masih jauh panggang dari api.

15 April 2009

Membangun Komitmen Dakwah Ekonomi Islam

Membangun Komitmen Dakwah
Ekonomi Islam
(Spesial untuk Mujahid Ekonomi Islam di IsEF SEBI)

Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
(Al Anfaal: 60)

28 Maret 2009

Al fahm, Fondasi awal ber-Islam


Al fahm, Fondasi awal ber-Islam

Sebenarnya bahasan ini sudah saya terima dan pernah sama-sama kami bahas dalam atmosfer-atmosfer cinta beberapa tahun lalu, kalau tidak salah ketika kami sama-sama duduk di bangku sekolah menengah atas dan memang lagi ghiroh-ghirohnya untuk tarbiyah. Buku yang menjadi rujukan kami ketika itu adalah "Risalah Pergerakan"-nya Imam Syahid Hasan Al Banna. Tapi mungkin karena memang ketika itu kami (kami atau saya ya? Hehe..) nggak terlalu menyimak, mendalami, memahami dan mengamalkannya jadi sebagian besar bahasan menguap sudah.