07 Oktober 2009

Manajemen Gerakan Pemuda

Manajemen Gerakan Pemuda

Setiap gerakan yang revolusioner dan mengguncang dunia tiada pernah terjadi tanpa ada peran dan campur tangan para pemuda di dalamnya. Setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas serta terarah terutama di basis pemudanya.
Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik yaitu masalah dana, namun hal itu biasa dan terjadi di mana-mana, di setiap waktu dan tempat. Gerakan pemuda boleh miskin materi, tetapi jiwanya kaya, sehingga pantang menyerah dan mengeluh. Mereka tidak mengorbankan iffah, kehormatan diri, hanya untuk meminta-minta, karena pemuda perintis dan pelopor pergerakan yang berhasil adalah mereka yang bermental baja. Setiap pergerakan disusun, dirancang, dan dilaksanakan dengan demikian baiknya, mengabaikan kendala-kendala yang ada. Sebenarnya apa yang seharusnya dibutuhkan dalam setiap gerakan pemuda?

1. Kekuatan Moral dan Spiritual
Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah gerakan bisa salah atau bathil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, bersumber dari petunjuk Allah Ta’ala. Kekuatan moral dan spiritual yang benar akan menghasilkan azam dan iradah qawiyah. Bahkan, orang akan menjadi muda selamanya dan bergairah terus, jika bergerak atas landasan moral dan spiritual yang benar..

2. Kemampuan Intelektual.
Menurut penelitian, otak manusia yang terpakai hanya 5% dari volume otak yang sebenarnya. Apalagi otak orang Indonesia yang mungkin tidak mencapai batas maksimal itu. Bayangkan, jika kemampuan otak itu ditambah dengan kekuatan pendidikan (tarbiyah). Menurut catatan, anggota suatu gerakan pemuda 70%-nya adalah para sarjana mampu memaksimalkan potensi mereka yang terpendam.

3. Ideologi atau idealisme
Dengan idealisme inilah para pemuda mempunyai visi dan misi gerakan yang jelas dan memiliki pandangan jauh ke depan. Pemuda yang mempunyai idealisme selalu menjadi barisan pelopor dan perintis dalam kejelasan ideologi.

4. Institusional
Gerakan pemuda adalah gerakan bersama yang banyak orang tidak melakukannya. Kita memperoleh banyak dukungan dari proses kebersamaan ini, seperti saling menasehati dan saling mengingatkan. Itu hanya bisa dilakukan dengan berkumpul bersama, karena saling mengingatkan itu diperlukan dalam gerakan agar tidak tergelincir. Kritik dan peringatan itu perlu. Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi. Ketika seseorang mendapat musibah dan menderita, maka orang tersebut tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, sehingga potensinya tidak terpuruk.

5. Material
Sebenarnya di alam ini telah banyak modal material yang telah tersedia, tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Namun, karena kezaliman dan ketidakproporsionalan sikap kita, sehingga tidak memiliki daya inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya.

Itulah sedikit modal yang harus dibutuhkan bagi gerakan pemuda yang revolusioner. Karena pemuda adalah pikiran yang bertindak. Sejarah dunia, juga Indonesia, adalah milik angkatan muda, pemilik gagasan-gagasan revolusioner penuh dengan harapan yang meningkat. Memaknai pemuda tidak bisa hanya dari terminologis. Secara epistemologis, dialah yang bertanggung jawab untuk melakukan penyadaran kepada rakyat. Secara ideologis, dialah tenaga-tenaga pengubah dunia.

Pemahaman tentang pemuda sebagai inti perubahan dan ujung tombak jiwa-jiwa revolusioner memang kita sepakati. Usia muda merupakan lahan subur untuk tumbuhnya gagasan-gagasan segar sekaligus radikal dalam melakukan perubahan yang revolusioner. Namun, kematangan dalam berpikir dan bertindak tidak hanya ditentukan oleh usia atau fisik yang muda. Tapi juga harus didasari dari keyakinan dan keteguhan sikap, serta pengalaman yang harus didapati sendiri oleh jiwa-jiwa muda tersebut. [Farizal AlBoncelli]

Bahan artikel Buletin BARIS 49 Edisi Oktober

06 Oktober 2009

Kita, Generasi Kerdil… Emangnya Gue Pikirin

Kita, Generasi Kerdil… Emangnya Gue Pikirin

“Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan.
Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya.
Dalam setiap fikroh, pemuda adalah pengibar panji-panjinya”
Hasan Al banna


“Zaman baru telah lahir, namun hanya melahirkan generasi kerdil.” Gitulah kira-kira Schiller, seorang penyair dari Jerman menggambarkan era generasi kita, yang katanya generasi millennium. Nggak usah jauh-jauh ngeliat generasi kerdil di Jerman yang dilukiskan si Schiller itu, kita liat sejarah bangsa kita saja makin lama makin bikin bingung, terperangkap kejumudan dan makin terperosok jauh ke dalam labirin ketidakpastian. 64 tahun merdeka, tapi kemerdekaan yang sebenar-benarnya merdeka masih jauh panggang dari api.

Sejarah cuma bisa dirubah oleh para pemuda, kira-kira begitulah orang bijak berkata. Adalah kemustahilan untuk bisa berubah jika sejarah dibiarkan di monopoli oleh kalangan tua. Revolusi cuma bisa digerakkan oleh kalangan muda. Tapi pemuda yang bagaimana?

Kalo sedikit kita kilas balik sejarah bangsa ini, sebuah perubahan tak lepas dari sosok yang dinamakan pemuda. Mulai dari pembentukan “Boedi Oetomo” pada 20 Mei 1908 yang sekarang biasa kita peringati sebagai hari kebangkitan nasional, kemudian disusul oleh kongres pemuda dan pendeklarasian ‘Sumpah Pemuda’ pada tanggal 28 Oktober 1928 sampai peristiwa 12 Mei 1998 yang membawa bangsa ini menuju era baru yang disebut sebagai era reformasi.

Mereka adalah sosok-sosok pemuda yang kuat, punya visi, intelektualitas, leadership, kemampuan organisasi sehingga mampu menggerakkan diri demi kecintaan terhadap bangsa dan negara ini, menggerakkan untuk suatu perubahan. Mereka bukanlah para pemuda yang mudah menyerah kemudian apatis, pragmatis atau oportunis, hingga bau amis karena dipaksa keadaan.

Hari ini kita merindukan sosok-sosok pemuda seperti itu. Sosok-sosok pemuda yang punya stamina moral dan spiritual yang kuat untuk bertarung mengahadapi kompetisi dunia, bukan sosok-sosok pemuda yang hanya bisa melamun, nongkrong-nongkrong di pinggir jalan sambil ngelinting ganja yang dibeli dari uang hasil malak ortu. Bukan sosok pemuda yang cuma bisa menggandeng sang pacar, sambil membayangkan hal-hal ‘romantis’ masa depan, padahal ia sendiri belum mampu nyari uang hanya untuk sekedar mengisi perutnya.

Masa lalu bangsa ini dan bangsa manapun telah menjadi bukti, hanya pemuda-lah yang bisa melakukan perubahan. Baik secara fisik, intelektual, mental, spiritual, karakter dan moral yang dipandang dari studi ilmiah apa pun, hanya pemuda-lah yang bisa mengeluarkan sebuah bangsa ini dari kejumudan dan keterpurukan. Makanya, benarlah Bung Karno berkata, “berikan aku sepuluh orang pemuda, akan aku ubah dunia!” Sanggupkah kita sebagai para pemuda untuk bangkit, atau hanya "malu maluin" sekedar menunggu giliran? Semuanya terserah kita. Atau kita hanya akan tetap menunduk malu, lemah dan pasrah. Kalau begitu nggak salah yang dibilang si Schiller di atas, “Zaman baru telah lahir, namun hanya melahirkan generasi kerdil.” Dan generasi kerdil ini tinggal bilang: "Emangnya gue pikirin!" [Farizal Alboncelli] - Bahan Buletiin BARIS SMA 49

30 September 2009

Kisah Tukang Sapu di Sebuah Kampus

Salah satu adegan teater yang biasa kami perankan
sekedar untuk otokritik kita kepada kita dan untuk kita

Teater Senyum


nb: Skenario oleh Rahmat HM (Ketua FLP Wilayah Jakarta)





Kisah Tukang Sapu di Sebuah Kampus


Muncul hingar bingar sekelompok mahasiswa berdemo sambil orasi memekakan telinga. Disebar kertas-kertas pamlet berisi tulisan-tulisan. Kertas-kertas pamlet itu menyebar kemana-mana. Jatuh berserakan di lantai. Hening

SRREEKK! SRREEKK! SRREEKK!

Terdengar suara orang sedang menyapu. Munculah seorang tukang sapu dengan pakaian dinasnya.

Bullshit! Demonstrasi bullshit! Mahasiswa bullshit! Tai kucing!

Ia menyapu dengan kasar dan kesal. Disapunya kertas-kertas pamlet dengan sembarangan. Suara sapu beradu dengan lantai makin terdengar.

Sampah! Sampah! Sampah! Setiap hari ada sampah! Hari ini mahasiswa yang bikin sampah. Kemarin dosen yang bikin sampah. Kemarinnya lagi politikus. Besok mungkin kamu, kalian, mereka, dia yang bikin sampah. Lama-lama negeri ini jadi tong sampah. Bullshit! Bullshit!

Kesal. Melemparkan sapu. Tolak pinggang.

Kenapa sich pada suka banget bikin sampah? Aku yang capek. Kalian seenaknya byar-byer buang sampah. Setiap hari aku yang membersihkan sampah-sampah kalian. Bayangkan kalau aku membiarkan sampah-sampah itu menumpuk. Apa kalian masih bisa makan dengan enak? Apa kalian masih bisa belajar dan bekerja dengan tenang? Apa kalian masih bisa duduk berdua dengan kekasih kalian sambil menikmati danau yang indah? Bullshit kalian semua! Mahasiswa macam apa kalian?

Mengambil sapu yang tadi dilempar. Sapu dielus-elus dan ditimang-timang seperti bayi.

(Bicara kepada sapu) Maafkan aku ya. Kamu nggak salah, sayang. Mereka yang salah.

Duduk.

Aku memang hanya tukang sapu di sini. Tugasku adalah membersihkan tempat ini dari sampah-sampah. Tapi hargailah aku sedikit. Gajiku kecil. Tapi sepertinya kalian tidak punya kepekaan ya? Hah... bullshit kalian semua.
Ya... bull-shit! Mahasiswa sekarang bullshit! Kalian kan siswa yang sudah menjadi maha. Siswa artinya orang terpelajar. Dan maha artinya lebih. Jadi harusnya kalian lebih terpelajar. Lebih intelek. Lebih peka. Lebih perduli. Bertambahnya mahasiswa harusnya bertambah pula solusi untuk negeri ini. Bukan malah jadi menambah masalah. Tapi mahasiswa sekarang lebih banyak yang jadi masalah ketimbang memberikan solusi bermanfaat untuk negeri ini, untuk rakyat di negeri ini.
Lihat saja, ada mahasiswa-mahasiswa yang tawuran. Tawuran sesama mahasiswa. Goblok! Kaum intelek yang guoblok! Lihat saja, mahasiswa yang jadi pengedar narkotik. Harusnya kan kalian mencerdaskan rakyat dengan ilmu kalian. Bukan menebar racun. Lulus dari kampus, kalian malah bengong jadi pengangguran. Akhirnya, mahasiswa nganggur jadi kriminil, jadi pelacur, jadi germo, jadi tukang tipu, jadi penjilat.
Harusnya mahasiswa memfungsikan peranya sebagai mahasiswa. Agent of change. Ya, agen of change! Agen-agen perubahan. Mahasiswa harus membawa perubahan.

Berdiri di atas kursi.

Mahasiswa harus berdiri dan maju ke depan. Teriak dengan lantang. Tegap dan gagah penuh percaya diri. Katakan hitam jika memang hitam! Katakan putih jika memang putih! Mahasiswa harus menjewer penguasa yang seenaknya bikin rakyat sengsara. Teriak dengan lantang. Tegap dan gagah penuh percaya diri. Itulah mahasiswa.
Tapi jangan lupa! Habis demo, bersihkan dong sampah-sampahnya. Jangan bikin repot saya! Kalau ada snack lebih, kasih saya dong!

Turun dari kursi.

Dan jangan lupa! Kalian jangan tertipu setelah duduk di atas kursi empuk. Kursi ini untuk duduk pantat kalian. Jangan sampai...

Mengangkat kursi di atas pundak, menutupi kepala.
Jangan sampai.... kursi ini diletakan di atas kepala.

Menari-nari sambil mengangkat kursi.
Jangan kalian menghamba pada kursi. Kemudian menari-nari diatas penderitaan rakyat.

Menari dan bernyanyi
Waktu kau bayi. Kau tidak punya nama. Sekarang sudah besar. Kamu sudah punya nama. Kau besarkan bajumu. Kau besarkan namu. Kau lupakan orang-orang kecil yang membuatmu namamu besar. Eh... eh... bajumu terlalu besar. Eh... eh... kursimu terlalu berat.

Melemparkan kursi
Begitulah... mahasiswa juga kan manusia. Dulu dia berteriak-teriak lantang berjuang bersama rakyat. Sekarang dia mengemis-ngemis kepada pejabat.

Murung. Merindukan sesuatu.
Aku jadi teringat anakku. Sebenarnya dia bukan anakku. Aku menemukannya di tong sampah. Aku iba kepadanya hingga kubesarkan dia. Dia pun tumbuh menjadi anak yang pintar dan jujur. Karena kepintarannya dia bisa kuliah di Universitas Indonesia, nggak bayar. Dapet beasiswa.
Dulu di kampus UI rakyat miskin pun bisa kuliah di sana. Asalkan pintar. Makanya mahasiswa-mahasiswa UI bisa menjadi mahasiswa-mhaasiswa pintar yang kritis dan ditakuti penguasa. Selalu menjadi penggerak perjuangan rakyat kecil. Dulu... itu dulu. Kalau sekarang, jangan harap bisa masuk UI kalau tidak punya uang. Jadi, mahasiswa-mahasiswanya katro semua. Blo’on-blo’on. Senang-senang melulu.
Berbeda dengan anakku dulu. Dia tidak hanya pintar secara akademis. Tapi juga punya kepekaan dan keperdulian tinggi kepada rakyat kecl. Dia selalu menggerakan teman-temannya untuk berjuang bersama rakyat.
Aku pernah bertanya kepada anakku, kenapa dia begitu perduli kepada nasib rakyat kecil. Tahukan kalian apa jawabannya? Katanya, memang sudah begitu seharusnya, Pak. Itulah salah satu peran mahasiswa. Mahasiswa harus punya peran moral, peran sosial, peran akademik dan juga peran politik.
Peran moral artinya mahasiswa harus jadi contoh moral yang baik bagi masyarakat. Mahasiswa yang tawuran, mahasiswa yang mabuk, mahasiswa yang melacur adalah contoh moral buruk. Peran sosial berarti kita hrus perduli. Kita harus memberikan solusi bagi rakyat yang sedang menderita.
Aku bangga sekali dengan anakku. Tidak rugi aku banting tulang membesarkannya. Dia melanjutkan ceramahnya.

Berikutnya, adalah peran akademik. Nah, meskipun kita sibuk bergrganisasi dan bergerak mempperjuangkan rakyat kecil tapi kita juga harus tetap menjaga prestasi akademik kita. Prestasi belajar kita, Pak.
Hihihi... aku hanya ber ‘O’ saja, pura-pura ngerti ucapannya. Dan terakhir adalah peran politik. Ini juga penting untuk mahasiswa. Mahasiswa harus tahu perubahan apa saja yang sedang terjadi pada negeri ini. Kalau ada penguasa yang nakal, kita harus berani menjewer mereka.
Aku makin bangga. Aku makin sayang anakku. Hidup mahasiswa! Anakku menjawab, hidup rakyat, Pak!
Lihatlah anakku! Dia begitu bangga memakai jas almamater kampusnya. Kami sebagai rakyat biasa juga bangga, nak. Mahasiswa dulu memang pantas dibanggakan.

Termenung sedih
Hingga suatu ketika... terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Terjadi demontrasi besar-besaran. Para mahasiswa dan rakyat bersatu untuk menggulingkan penguasa dzalim. Anakku menjadi salah satu korlap demontrasi tersebut. Demontrasi itu berujung rusuh. Aparat menembaki para demonstran. Tak pandang bulu apakah itu mahasiswa atau rakyat kecil. Semua diusir dan dihujani peluru-peluru tajam. Banyak yang terluka. Banyak yang mati. Lalu anakku... bagaimana dengan nasib anakku...?

Aku pun berlari mencari-cari dia. Darah berceceran. Beberapa tubuh terkapar di jalanan. Ada yang sudah tak lagi bergerak, bersimbah darah. Ada yang masih merintih-rintih kesakitan. Hingga aku menemukan sosok tubuh anakku. Tertelungkup mencium bumi.
Anakku... aku langsung membalik tubuhnya dan menidurkannya dipangkuanku. Darah segar mengalir dari kepalanya. Tangan kanannya meremas-remas dada sebelah kirinya.
Aku ditembak... bapak... aku ditembak, katanya.
Sungguh aku ingin membopongnya. Tapi aku tidak kuat.
Bapak... katakan siapa ibuku? Dimana dia? Anakku masih sempat menanyakan siapa ibunya sebelum akhirnya ia tak lagi bernafas.
Aku tidak pernah menceritakan ia kudapat dari mana. Dari tong sampah. Dia tidak pernah tahu siapa ibunya.
Ibumu, nak... ibumu adalah ibu pertiwi... kau akan segera bertemu dengannya.

Menyanyikan lagu Ibu Pertiwi

Ibumu pasti bangga padamu, nak. Ibu pertiwi sedang sedih. Ibu pertiwi berlinang airmata. Dia sedih karena tak lagi bisa melahirkan anak-anak yang bisa dibanggakan. Anak-anak ibu pertiwi kebanyakan hanya bisa bikin malu. Ibu pertiwi tak lagi bisa melahirkan pahlawan-pahlawan. Anak-anaknya tumbuh menjadi penjajah di negeri sendiri.

Berdiri tegap
Akankah terlahir kembali anak-anak pahlawan dari rahimmu, ibu pertiwi?

Naik ke atas kursi.
Hei! Lihat! Ada demonstrasi lagi! Haduuuh! Pasti akan ada sampah lagi!

Mengambil sapu
Ayo sekarang kita lakukan tugas kita. Membersihkan sampah-sampah. Demikian saja penampilan saya. Terimakasih.

Melangkah pergi. Tiga langkah kemudian kembali.
Hei! Ngomong-ngomong, kalian mahasiswa tidak malu diceramahi tukang sapu?!

SEKIAN

29 Agustus 2009

kata Pengantar Skripsi

KATA PENGANTAR


Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata,
lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".
[At Taubah: 105]

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirabbil 'alamin, wash-shalaatu wassalaamu 'ala asyrafil anbiyaa wal mursaliin, wa 'alaa aalihii washahbihiwasallam.Waba 'du.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Tiada kata yang indah yang diucapkan oleh seorang hamba selain rasa syukur kepada Allah SWT atas kemudahan yang masih kita rasakan hingga detik ini. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, penolong tentara-Nya yang memuliakan agama-Nya. Sebagai makhluk yang lemah dan banyak salahnya, patutlah kita merasa sangat bersyukur atas segala nikmat yang tak kunjung padam yang ia berikan kepada kita di tengah kealpaan kita sebagai makhluk-Nya, dan patutlah kita merasa takut akan murka-Nya, karena begitu sangat mudahnya Ia untuk membolak-balikkan hati manusia dari jalan yang lurus ke jalan yang tak diridhoi-Nya dan juga sebaliknya.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tetap tercurahkan kepada junjungan alam, suri tauladan kita, manusia yang paling sholeh sedunia yang pernah hidup di muka bumi ini, Nabi Muhammad SAW, juga kepada segenap keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang Insya Allah kita termasuk di dalamnya yang selalu istiqomah menegakkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Lebih khusus puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Perbedaan Maslahah dalam Penggunaan Metode Profit Sharing, Gross Profit Sharing dan Revenue Sharing pada Pembiayaan Mudharabah di Bank Syariah” sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam. Tentu ini bukan akhir, tetapi saya yakin ini adalah awal dari tanggungjawab sebagai bagian dari peran akademis dan amanah cendekiawan muslim untuk terus memberikan kontribusi dalam rangka pembangunan ummat. Inilah jalan hidup yang telah dipilih. Semua ini tentunya tak akan menjadi kenyataan tanpa uluran tangan dan kepedulian dari banyak pihak.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam skripsi ini, terlebih lagi masih terbatasnya akses referensi buku-buku utama dan minimnya hasil-hasil penelitian di bidang ini. Untuk itu, saya perlu melakukan wawancara ke berbagai pihak terkait, menghadiri berbagai forum ilmiah ekonomi Islam serta memburu berbagai literatur dari berbagai sumber. Sehingga pada akhirnya, skripsi ini dapat saya selesaikan melalui kerja keras penuh perjuangan dengan beraneka ragam kendala dan yang jelas tidak terlepas dari bantuan dan dorongan semua pihak.

Oleh karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan rasa terima kasih dan tentu tak mencukupi hanya disampaikan dengan sekedar kata. Pertama saya haturkan kepada keluarga saya, khususnya Ibu yang telah berjuang dengan gigih membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang dan yang telah mengajarkan arti mencari ilmu dan menyebarkan ilmu serta berdakwah dengan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Almarhum Ayah yang telah menanamkan jenak-jenak kehidupan, meskipun tak sempat melihat dan mendampingi saya beranjak dewasa, namun doa selalu terpanjat agar diberikan keluasan alam barzah dan dijauhkan dari azab kubur. Ayah angkat, yang selalu memberikan dorongan moril dan materiil dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Terima kasih saya haturkan kepada jajaran pimpinan STEI SEBI, KH. Prof. DR. Didin Hafidhuddin, MSc selaku Majelis Wali Amanat, Bapak Sigit Pramono, SE., Ak. MSACC, selaku Ketua STEI SEBI, Bapak Dadang Romansyah, SE., Ak., MM selaku Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiwaan, Ibu Sri Mulyati, SE. Ak selaku Wakil Ketua II Bidang Keuangan dan Operasional, Bapak Izzuddin Abdul Manaf, Lc, MA selaku Unsur Pelaksana Akademik Ketua Jurusan Muamalat, Bapak Azis Budi Setiawan, SEI., MM selaku Ketua Program Studi Keuangan dan Perbankan Syariah, dan Bapak Adli, SE., MSi selaku Ketua Program Studi Akuntansi Syariah.

Terima kasih juga terucap kepada para pembimbing spiritual saya, Ust. Yusuf Nur Hidayat, Ust. Fauzi Bahreisy, Ust. Hidayatullah dan Ust Porkas Halomoan atas materi-materi tarbiyahnya selama ini, sehingga mampu menjadi inspirasi dalam memaknai hidup dan kehidupan.

Ucapan terimakasih lebih khusus juga tertuju kepada Bapak Dadang Romansyah, SE., Ak., MM dan Bapak Endang A. Yani, SE., MM yang telah dengan sabar membimbing saya selama setahun lebih. Terima kasih atas segala pengorbanan dan dukungan baik dari segi waktu, pemikiran, semangat sehingga saya mampu menyelesaikan penelitian ini.
Tak lupa saya juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Agustianto, Mag sebagai 'pembimbing tambahan' dalam skripsi ini. Kepada Bapak Ramzi A Zuhdi, Bapak Ali Sakti, Bapak Yuzlam Fauzi, bapak Hanawijaya, Bapak Yusuf Helmy, Bapak Irfan Syauqi Beik, Bapak Merza Gamal, Bapak Barno, Bapak Ali Hozi, dll atas kesediaan waktu dan pemikirannya dalam mencari sumber penelitian skripsi ini.

Kepada para dosen STEI SEBI, Ust Ahmad Bisyri, Ust Ahmad Sahal, Ust Sofwan Jauhari, Ibu Wulan, Ibu Asri, Ibu Inge, Pak Handi, Pak Kamal, Pak Anton, dan lain sebagai yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih atas semua ilmu yang telah dicurahkan, semoga menjadi manfaat dan amal yang terus menerus mengalir hingga hari akhir.
Terimakasih juga kepada karyawan STEI SEBI, Mbak Ai'nur, Bang Abdi, Sdr Firmansyah, Bang Fahmi Syahbudin, Mbak Dewi Anggraeni, Pak Mulyadi, Sdr Sepki, Pak Lutfi, Mbak Fahma, Mbak Erna, dll. Terimakasih selalu mengingatkan untuk mengerjakan skripsi.

Kepada rekan-rekan AS dan MPS 2004 STEI SEBI, Asrul, Badar, Hamzah, Awang, Arif, Lukman, Rachmad, Pak Kus, Widy, Kemas, Subhan, Firdaus, Reiki, Richo, Ayu, Widi, Asri, Aini, Ratna, Linda, Millah, Tika dan semuanya yang tidak bisa saya tulis satu persatu, terimakasih atas bantuan, saran kritik, teguran, dan persahabatan selama ini.
Saya juga berterima kasih kepada kawan-kawan sparing partner, Pengurus di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Islamic Economics Forum (IsEF), dan Majelis Musyawarah Mahasiswa (MMM) tempat saya banyak belajar dan mencurahkan idealisme. Mohon maaf jika saya banyak berdebat dan adu argumen selama ini, karena dengannya kita akan banyak belajar.
Terimakasih juga kepada adik-adik tingkat 2005 STEI SEBI, Kamil, Hendra, Dimas, Rangga, John, Ricky, Aris, Herdin, Ues, Didik, Koskos, Dena, Ezi, Reka, Dian, Dani, Diah, Ningrum, Dien, Yuni, dkk. Juga adik-adik di 2006, Zein, Sandi, Riky, Harits, Janu, Molbi, Ihol, dan lebih khusus kepada Adik Syska yang dengan 'kepanikan'nya saya mampu menyelesaikan skirpsi ini. Tak lupa juga adik-adik di 2007 dan 2008 yang banyak yang tidak saya kenal namun selalu menyapa dengan rasa kehangatan.

Kepada rekan-rekan 12 ikhwan, Fatwa dan Chandra yang tengah berpetualang di luar kota. Kepada Akbar, Ferry dan Rubby dengan istrinya masing-masing, semoga menjadi keluarga sakinah. Kepada Parlan, Saef, Wahyu, Andri, Tahyudi, Bayu, Rangga, Rahmat, dkk ternyata diantara kita semua, saya yang paling akhir lulus kuliah.

Terimakasih juga terucap kepada rekan FoSSEI, khususnya rekan-rekan ketika sama-sama mengemban amanah PRESNAS 2007-2008, Akh Didi, Mas Ibnu, Mas Walid dan Mas Angga. Tak ketinggalan juga rekan-rekan regional masa jabatan yang sama, ada Ridha dengan Abang Kholil, Bang Hendra, dan Akh Risman dengan Dewi-nya di Pulau Sumatera. Akh Izul, Mbak Ushwah dengan Nawawi-nya, Mas Imam, Mas Sugi dan Akh Erwin di Pulau Jawa. Akh Tantra, Akh Rizal dengan Midah-nya, dan Akh Chairul di Kalimantan. Akh Zul dan Akh Abdul beserta Istri di Pulau Sulawesi, serta akh Jihad dan Ukh Nurul di Sunda Kecil. Terimakasih atas pelajaran idealisme, pengorbanan dan kehidupan selama ini. Juga rekan-rekan FoSSEI saat ini sekarang, Khadafi, Darsono,, Waskito, Deky, Eko Rusli, Ardi, Willy, Asbah, Muizuddin, Yoga, Khatib, Reni, dkk. Semoga amanah dan perjuangan Mahasiwa Ekonomi Islam tidak akan pernah padam dan terus mencari relung kejayaan Islam.

Kepada para sahabat saya, Mitra, Wina, dan Ricky di STEKPI, Nugroho di UNJ, Ovy di Alhikmah, Firdaus, Astria, Husnul dan Turina di Trisakti, Arif di YAI, Adek di UNPAD, Mbak Arly di BI, Cecep di UI, Azizah di Bekasi, Yusrul di UIN SUSKA Pekanbaru, Fiah di TAZKIA, Dina di IPB, dan Mbak Rifkah di UNILA yang dengan batuan, doa, semangat dan 'omelan'nya untuk terus mengerjakan skripsi, saya akhirnya mampu menyelesaikan penelitian ini.

Kepada Rekan-rekan IAR SMA 49, Arselan, Hendra, Imron, Ismail, Fahmi, Khilma, Chornie, Ipung, Ridho, Riico, Kiki, juga binaan saya, Galih, Ferdi, Hendris, Azzam, Edo, Umbang, Fandika, Mahdi, Rohim, Hadi, dkk yang menjadi penyemangat dan tempat untuk curahan dakwah saya.

Terimakasih juga terucap kepada rekan-rekan di ACT, Pak Imam, Andika, Mbak Ima, Mas Taryo, Mas Bayu Gautama, Mbak Iis, yang dengannya saya mampu merasakan apa yang dimaksud dengan kata 'empati'. Juga rekan-rekan di MGe, Mbak Dwi, Mbak Nisa, Yuki, Bang Andre, Bang Irfan, Bang Davy, dkk yang dengan mereka, saya mampu belajar tentang make to event. Tak lupa rekan-rekan di MES, Bang Iqbal, Bang Rafky, Heru, Yuni, Muis, Dedi, Mbak Azizie, dkk yang dengannya saya mampu melanjutkan perjuangan pasca kampus untuk menegakan ekonomi Islam.

Dan semua pihak yang tidak dapat saya cantumkan namanya satu persatu dalam kalimat ini. Semoga amal kebaikan, doa dan bantuan selama ini kepada saya dapat menjadi catatan timbangan kebaikan di akhirat kelak. Semoga segala bantuan, dukungan, dan do’anya kepada saya, dibalas Allah dengan kebaikan yang berlimpah. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan kemanfaatan bagi saya khususya dan bagi kemajuan dan perjuangan pengembangan ekonomi syariah ditanah air tercinta, dan mampu mengisi relung kosong khasanah keilmuan Islam, khususnya dalam bidang ekonomi. Kritik dan saran yang konstuktif terbuka bagi penyempurnaan dan peningkatan kualitas sayaan ini


Jakarta, Juli 2009


F a r i z a l

18 Agustus 2009

ALASAN PEMBENARAN PENGAMBILAN RIBA DAN JAWABANNYA


1. Dalam keadaan darurat, bunga halal hukumnya.

Jawaban:

  1. Harus jelas pengertian darurat

Imam Syututi: darurat adalah suatu keadaan emergency dimana jika seseorang tidak melakukan sesuatu tindakan dengan cepat, akan membawanya ke jurang kehancuran dan kematian (al-Asybah wa an Nadzoir, h.85)

  1. Dispensasi darurat harus sesuai dengan kaidah ushul fiqih “Darurat itu harus dibatasi sesuai dengan kadarnya” (Adh-Dhorurot tuqoddaru bi qodariha)
  2. Darurat ada masa berlakunya dan batasan ukuran dan kadarnya
  3. Riba (bunga) dalam kondisi sekarang sudah tidak darurat lagi, kecuali dalam beberapa hal seperti yang dijelaskan dalam fatwa MUI, seperti dalam dunia bisnisyang menuntut pembayaran transaksi melalui transfer melewati bank konvensional diperbolehkan, apabila bank syari'ah tidak bisa memfasilitasi hal tersebut.

2. Hanya bunga yang berlipat ganda saja yang dilarang, sedangkan suku bunga yang “wajar” dan tidak menzalimi, diperkenankan. Berlandaskan surat Ali Imran ayat 30

Jawaban:

  1. Kriteria berlipat ganda dalam ayat ini harus dipahami sebagai “hal” atau sifat dari riba pada masa itu, bukan merupakan syarat.
  2. Dr. Abdullah Draz, menepis hal itu. karena dho’f (berlipat ganda biasanya 2 x lipat), sedangkan bentuk adh’af (bentuk jamak/3 atau lebih) sehingga menjadi 3X2=6 kali lipat. Dengan demikian, kalau berlipat ganda itu dijadikan syarat maka sesuai dengan konsekwensi bahasa, minimum harus 6 kali atau bunga 600%. secara operasional dan nalar sehat, angka itu mustahil terjadi dalam proses perbankan maupun simpan pinjam.
  3. Ayat tersebut merupakan tahapan turun ayat riba; yaitu ar Rum 39, an-nisa 160-161, ali imron 130, al-baqarah 278-279.
  4. Dr. Sami Hasan Hamoud dalam bukunya “Fawathir al-A’maali Al-Mashrafiyah bimaa yattafiqu wasy-syariah al-Islamiyah” menjelaskan bahwa ayat itu berkenaan dengan pinjam meminjam barang bergerak yang dilakukan bangsa arab. Mereka biasa meminjamkan ternak berumur 2 tahun (bint makhod) dan meminta kembalian berumur 3 tahun (bint laun). Kalau meminjamkan bit laboun, meminta kembalian haqqoh (berumur 4 tahun).
  5. Surat ali Imron ayat 130 diturunkan pada than ke-3 H. Ayat ini harus dipahami bersama Surat al-Baqarah ayat 278-279 yang turun pada tahun ke-9 H. Para ulama menegaskan bahwa pada ayat terakhir tersebut merupakan “ayat sapu jagad” untuk segala bentuk ukuran, kadar, dan jenis riba.

3. Bank, sebagai lembaga, tidak masuk dalam kategori mukallaf. dengan demikian, tidak terkena khitab ayat-ayat dan hadits riba. Sebab, ketika ayat riba turun dan disampaikan di jazirah arab, belum ada bank atau lembaga keuangan, yang ada hanyalah individu/perorangan. Dengan demikian bank tidak terkena hukum taklif karena pada zaman nabi hidup belum ada bank.

Jawaban:

  1. Tidak benar bahwa pada zaman pra-Nabi tidak ada “badan hukum” sama sekali. sejarah Romawi, Persia, dan Yunani menunjukkan ribuan lembaga keuangan yang mendapat pengesahan dari pihak penguasa. Dengan kata lain perseroan mereka telah masuk ke lembaran negara.
  2. Dalam tradisi hukum, perseroan atau badan hukum sering disebut sebagai juridical personality atau syakhsiyyah Hukmiyyah. Secara hukum adalah sah dan dapat mewakili individu-individu secara keseluruhan.
  3. Dilihat dari segi mudharat dan manfaat, perusahaan dapat melakukan mudharat jauh lebih besar dari perorangan. Pengedar narkoba secara perorangan lebih kecil dampaknya dibanding dengan organisasi mafia pengedar narkoba. Karena lembaga/badan melakukan fi’il mukallaf, maka dia seperti mukallaf.

4. Di antara alasan yang dikemukakan untuk pembenar pengambilan bunga adalah alasan abstinence, bahwa ketika kreditor manahan diri (abstinence), ia menangguhkan keinginannnya memanfaatkan uangnya sendiri semata-mata untuk memenuhi keinginan orang lain. Ia meminjamkan modal yang semestinya dapat mendatangkan keuntungan bagi dirinya. oleh karena itu wajar dia mendapatkan bayaran sewa atas uang yang dipinjamkannya.

Jawaban:

  1. Kenyataannya, kreditor hanya akan meminjamkan uang yang tidak ia gunakan sendiri. Kreditor hanya akan meminjamkan uang berlebih dari yang ia perlukan. Dengan demikian kreditor sebenarnya tidak menahan diri atas apapun.
  2. Tidak ada standar yang dapat digunakan untuk mengukur unsur penundaan konsumsi dari teori bunga abstinence.
  3. Dalam tinjauan syariah “unsur penundaan konsumsi” atau penundaan investasi tidak dapat dijadikan illat dalam penetapan hukum. Para ulama merumuskan:

من شروط العلة ان تكون وصفا ظاهرا منضبطا

“salah satu syarat illat hukum (argumentasi hukum) adalah sifat yang jelas, zahir, tetap/konsisten”

  1. Feeling seseorang yang menunggu dan melakukan tindakan abstinence itu sangat berbeda-beda.

5. Mereka beralasan bahwa ketika meminjamkan uang, sebenarnya mereka sedang menyewakan uang, jadi riba (bunga) diperbolehkan seperti halnya menyewakan barang dalam bentuk uang.

Jawaban:

  1. sewa hanya dikenakan terhadap barang-barang seperti rumah, perabotan, alat transportasi dan lain sebagainya, yang bila digunakan akan habis, rusak, dankehilangan sebagain dari nilainya.
  2. Biaya sewa layak dibayarkan terhadap barang yang surut, rusak dan memerlukan biaya perawatan. adapun uang tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut
  3. Dalam disiplin ilmu ekonomi barat, kita seringkali mendapatkan rumus yang mendapatkan posisi rent, wage, dan interest

{(r)K; (w)L; (i)M}

(r)K berarti rent untuk Kapital

(w)L berarti wage untuk Labour

(i)M berarti interest untuk Money

6. Sebagian orang ada yang mengharamkan bunga pada pinjaman konsumtif, sedangkan pada pinjaman produktif maka mengambil bunga (riba) adalah halal dan diperbolehkan.

Jawaban:

  1. Jika dalam menjalankan bisnisnya peminjam mengalami kerugian, dasar apa yang dapat membenarkan kreditor menarik keuntungan tetap secara bulanan atau tahunan dari peminjam?
  2. Jika si pemberi pinjaman (kreditor) disuruh melakukan bisnisnya sendiri, apakah pasti ia mendapat keuntungan?
  3. Kreditor bisa saja menginvestasikan modalnya pada usaha-usaha yang baik agar ia menuai keuntungan. bila itu yang menjadi tujuan, cara yang wajar dan praktis baginya adalah dengan kerjasama usaha dan berbagi keuntungan (mudhorobah), bukan meminjamkan modal dengan menarik bunga tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sektor riil.
  4. Seandainya ia ingin membantu untuk tujuan kemanusiaan, hukum yang berlaku adalah qardhul hasan atau pinjaman kebaikan.

من ذاالذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له و له أجر كريم

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada allah pijaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (al-hadid: 11)

7. Sebagian orang beranggapan bahwa dengan meminjamkan uangnya berarti kreditor menunggu atau menahan diri dari menggunakan modal sendiri dalm memenuhi keinginannya. Hal itu serupa dengan memberikan waktu kepada si peminjam. Dengan waktu itulah orang yang berutang memilki kesempatan menggunkan modal pinjamannya untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian, waktu mempunyai harga yang meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Hal itu dijadikan alasan para kreditor berhak menikmati sebagian keuntungan peminjam. Besar kecilnya keuntungan dikaitkan dengan besar kecilnya waktu. Pandangan ini disebut dengan OPPORTUNITY COST (Biaya kesempatan).

Jawaban:

  1. Bagaimana mungkin kreditor memastikan keuntungan peminjam dan bukan kerugian atas investasi modalnya?
  2. Atas dasar apa kreditor berkeyakinan bahwa peminjam akan selalu memperoleh keuntungan secara tetap, sehingga ia berhak ikut memperoleh keuntungan
  3. Tidak benar jika ada anggapan bahwa jika dana diusahakan secaar syariah berarti opportunity itu akan hilang sama sekali. seluruh akad bisnis syariah memebrikan peluang kepada kedua belah pihak untuk memetik keuntungan yang adil dan proporsional.

8. Teori kemutlakan produktivitas modal. Para ahli ekonomi berpendapat bahwa modal adalah produktif dengan sendirinya. Modal dianggap mempunyai daya untuk menghasilkan barang lebih banyak daripada yang dihasilkan tanpa modal. dengan demikian, pemberi pinjaman layak untuk mendapatkan imbalan bunga.

Jawaban:

  1. Modal bukan sendirinya menjadi produktif. Modal bisa menjadi produktif apabila digunakan seseorang untuk bisnis yang mendatangkan keuntungan. Bila untuk konsumsi, modal sama sekali tidak produktif.
  2. Bila modal digunakan untuk produksi pun, tidak selalu menghasilkan nilai tambah. Dalam keadaan ekonomi yang merosot, penanam modal sering menipiskan keuntungan, bahkan bisa menjadi kerugian.
  3. Bila modal dianggap memiliki produktifitas, sebenarnya produktivitas tersebut bergantung kepada faktor lain, seperti riset, marketing, keuangan, kemampuan, visi dan pengalaman. Belum lagi kondisi ekonomi, sosial dan politik.
  4. Meskipun modal memiliki potensi produktivitas, akan tetapi tidak ada cara untuk mengetahui secara tepat dan pasti nilai potensi keuntungan yang adil, baik pada saat stabil maupun krisis.

9. Teori Nilai Uang pada masa mendatang lebih rendah dibanding masa sekarang. Beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa manusia pada dasarnya lebih mengutamakan kehendaknya sekarang dibanding kehendaknya di masa datang. sehingga mereka membolehkan bunga karena menurunnya nilai barang di waktu mendatang dibanding dengan nilai barang di waktu kini. Boehm Bawerk, pendukung utama pendapat ini , menyebut tiga alasan mengapa nilai barang di waktu yang mendatang akan berkurang; yaitu sebagai berikut:

  1. keuntungan di masa yang akan datang diragukan. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakpastian peristiwa serta kehidupan manusia yang akan datang, sedangkan keuntungan masa kini sangat jelas dan pasti.
  2. Kepuasan terhadap kehendak atau keinginan masa kini lebih bernilai bagi manusia daripada kepuasan mereka pada waktu yang akan datang. Pada masa yang akan datang, mungkin saja seseorang tidak mempunyai kehendak semacam sekarang.
  3. Kenyatataannya, barang-barang pada waktu kini lebih penting dan berguna. dengan demikian, barang-barang tersebut mempunyai nilai lebih tinggi dibanding dengan barang-barang pada waktu yang akan datang.

Jawaban:

  1. Tidak selalu benar anggapan bahwa kehendak masa kini lebih penting dan berharga daripada keinginan pada masa depan. sebab banyak orang tidak membelanjakan seluruh pendapatannya sekarang, tetapi menyimpannya untuk keperluan pada masa yang akan datang
  2. Teori ini menyebut bahwa Rp 100 juta hari ini adalah sama dengan Rp. 125 juta tahun mendatang. selisih sebesar Rp 25 juta merupakan bunga. Dalam contoh ini ada yang salah yaitu kemutlakan, kepastian. Tidak boleh ada yang pasti.
  3. Islam sangat menghargai waktu, tetapi penghargaannya tidak diwujudkan dalam rupiah tertentu. Karena hasil nyata dari optimalisasi waktu itu variable, bergantung pada jenis usaha, sektor industri, lama usaha, keadaan pasar, stabilitas politik, dll.

10. Teori Inflasi. Inflasi secara umum sering dipahami sebagai meningkatnya harga barang secara keseluruhan. Dengan demikian, terjadi penurunan daya beli uang atau decrasing purchasing power of money. Oleh karena itu, menurut penganut paham ini, pengambilan bunga uang sangatlah logis sebagai kompensasi penurunan daya beli uang selama dipinjamkan.

Jawaban;

    1. Situasi ekonomi tidak selama terjadi inflasi. Bisa jadi kondisi stabil
    2. Islam telah menyediakan skim muamalah yang sesuai dengan syariat dalam menghadapi inflasi secara komprehensif. Bukan hanya keuntungan sebagai antisipasi dari menurunnya nilai uang akibat inflasi. tetapi juga mencegah terjadinya inflasi itu sendiri karena pembiayaan dalam bank syariah hanya untuk sektor riil yang akan menggiatkan roda ekonomi.
    3. Pembungaan itu sendiri akan menimbulkan dan melahirkan inflasi itu sendiri. Jadi bunga saja sudah memberi andil terciptanya inflasi, selain faktor lain.

28 Juli 2009

MES GOES TO CAMPUS (GRATIS...!!!)

Perkembangan metodologi penilaian kondisi kesehatan financial bank syariah yang bersifat dinamis mendorong pengaturan kembali sistem penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan prinsip syariah. Tujuannya, agar dapat memberikan gambaran lebih tepat mengenai kondisi saat ini dan mendatang. Tingkat kesehatan bank digunakan untuk mengevaluasi kinerja bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap prinsip syariah, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, dan manajemen risiko.

Selain itu, riset mengenai penentuan rate bagi hasil deposito mudharabah bank syariah pun menjadi suatu hal yang menarik apabila ada hubungannya dengan rate suku bunga bank Indonesia, terlepas itu hubungan positif maupun negatif.

MASYARAKAT EKONOMI SYARIAH

Bekerjasama dengan

UNIVERSITAS PARAMADINA

dan

IKATAN AHLI EKONOMI ISLAM

MENYELENGGARAKAN

MES GOES TO CAMPUS

National Seminar on Islamic Banking Research

Kamis 30 Juli 2009, Pukul 09.30 WIB

Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96-97,Jakarta Selatan 12700

Keynote Speech

Wijayanto

Deputy Rektor Bidang Kerjasama, Pengembangan Bisnis dan Kemahasiswaan

Universitas Paramadina

Presentasi Riset:

Azis Budi Setiawan, SEI., M.M (Mahasiswa MBKI Univ Paramadina)

Analisis Kesehatan Finansial dan Kinerja Sosial Bank Umum Syariah”


Dadang Romansyah, SE., Ak., M.M (Mahasiswa MBKI Univ Paramadina)

Penentuan Rate Bagi Hasil Deposito Mudharabah Bank Syariah di Indonesia: Analisis Teori dan Praktik”


Panelis:
Dr. Agustianto, M.Ag

Advisor Bank Muamalat Indonesia dan Sekjen IAEI


Dadang Muljawan

Peneliti Senior Bank Indonesia


Moderator:

Handi R. Idris, M.Ec

Dosen MBKI Universitas Paramadina



GRATIS GRATIS GRATIS

Free: makalah, snack & sertifikat





WAJIB DAFTAR (call only dan jam kerja)

Umum

Call : Yuni/Muis 021 5290 1515, Fahri (021 950 42948)

Email : yuni@ekonomisyariah.org

Mahasiswa

Call : Arif FoSSEI (021 933 81082)

Email : arief_tri_setiaji@yahoo.co.uk

15 April 2009

Membangun Komitmen Dakwah Ekonomi Islam

Membangun Komitmen Dakwah
Ekonomi Islam
(Spesial untuk Mujahid Ekonomi Islam di IsEF SEBI)

Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
(Al Anfaal: 60)

Pengangguran, penimbunan barang, jeratan-jeratan hutang, krisis dunia yang terus berulang-ulang, merupakan sebagian kecil dari bencana-bencana ekonomi dunia yang ditimbulkan oleh ekonomi kapitalis. Terjadinya kemiskinan yang semakin meluas di negara dunia ketiga dan ekploitasi ekonomi dari sekelompok negara maju terhadap negara-negara berkembang telah menciptakan penjajahan gaya baru. Kekacauan terjadi, tidak hanya dalam bentuk ekonomi, tetapi telah meluas menyentuh pada wilayah hukum, sosial budaya, bahkan kancah pertarungan politik. Kriminalitas dan konflik-konflik sosial menjadi peristiwa keseharian yang menunjukkan ketimpangan sosio-ekonomi, sehingga yang terlihat adalah instabilitas, dimana kemajuan tidak bermakna kesejahteraan. Beberapa pakar ekonomi pun memprediksikan sebuah krisis yang maha dahsyat yang akan terjadi.

Keyakinan kita sebagai Mujahid Ekonomi Islam, akan kerapuhan dan bobroknya sitem ekonomi kapitalis menjadi sebuah keniscayaan bangkitnya sistem ekonomi Islam. Keyakinan kita, –cepat atau lambat– segera runtuhnya ekonomi kapitalis, memacu semangat kita untuk terus menerus mempelajari ilmu ekonomi yang pernah mensejahterakan manusia dengan instrument zakatnya. Tapi yang jadi pertanyaan, sejauh manakah komitmen kita terhadap bagian dari solusi itu? Apakah hanya karena 'aji mumpung' perkembangan yang cukup pesat dari ekonomi Islam? Apakah hanya karena 'pragmatisme bin opportunis' dari kondisi perekonomian yang 'mendukung'? Mengingat kuliah di jaman sekarang ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga selepas keluar dari perguruan tinggi, yang ada dalam benak kita adalah ingin secepatnya mendapat hasil atau gaji besar, agar uang kuliah cepat kembali.

Dari ayat yang tercantum di atas, bahwa "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…" ALLAH memberikan 'instruksi' kepada kita untuk melakukan totalitas (tajarrud) dalam memerangi kebatilan. Totalitas bukan dalam perngertian salah kaprah bahwa kita harus meninggalkan semuanya untuk dakwah amar ma'ruf nahi munkar, namun totalitas dalam arti sebenar-benarnya totalitas yaitu kita gunakan semua yang kita miliki demi kejayaan dakwah. Harta benda, pekerjaan, waktu, tenaga, dll yang kita miliki bukan penghalang dakwah tapi justru bisa menjadi pendukung dakwah, apapun dan bagaimanapun kondisi kita.

Sebagai Mujahid Ekonomi Islam yang memiliki slogan 'Komunitas Intelektual Muslim Basis Ekonom Muda' mencirikan bahwa pergerakan IsEF adalah pergerakan dengan semangat yang membara, idealis dan kritis. Kata "Ekonom Muda" mencirikan bahwa pemuda memiliki masa depan yang fokus pada bidang ekonomi yang dapat ’survive' bahkan 'leading'. Titik sentral yang bersumber pada penyiapan SDM yang tangguh, berwawasan global tapi tetap idealis dan kritis.

Dengan slogan seperti itu, seharusnya sudah ada output-output yang dihasilkan dalam perkembangan ekonomi Islam. Tidak hanya sekedar pemenuhan SDM yang terjun langsung ke industri, tidak hanya juga menjadi ahli/dosen di perguruan tinggi. Meskipun baik namun lebih dari itu, bahwa kerusakan yang telah merajalela akibat sistem yang tidak mendukung dapat digantikan dengan sistem yang penuh dengan nilai-nilai ilahiyah.

IsEF dengan slogannya yang jelas dan menyeluruh sudah seharusnya mempersiapkan kader-kadernya, tidak hanya faham terhadap ekonomi Islam, tapi lebih dari itu yaitu menumbuhkan komitmen agar kader-kadernya mampu melakukan dakwah ekonomi Islam. Dengan segenap "…kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…" mampu berperan, tidak hanya dalam tuntutan dakwah ekonomi Islam yang survive tetapi juga harus leading' Leading, tidak hanya dalam perlombaan-perlombaan semacam temilnas, LKTEI, lomba debat, dsb. tapi terdepan dalam menghadapi qadayatul ummat, khususnya di bidang ekonomi. Artinya, seorang kader IsEF, memiliki kemampuan untuk menjadi pilar kebangkitan ekonomi Islam dan pengibar panji-panjinya.

Bukan hanya sekedar 'urgensi' yang biasanya kader hanya akan semangat ketika di awal-awal saja, setelah itu kembali menurun. Akan tetapi jauh dari itu adalah komitmen dakwah, khususnya di bidang ekonomi. Dakwah Ekonomi Islam yang dirasa tidak menjadi beban para pemanggulnya. Beban ketika keadaan ekonomi sedang sulit, beban ketika sedang tidak sehat, beban ketika segala sesuatu tidak sesuai rencana, bahkan beban ketika waktu telalu sulit untuk disisihkan karena bentrok dengan tugas kuliah, atau kesibukan sehar-hari lainnya.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (Ali Imran: 104-105)

Tidak ada yang terlewat. Mulai dari bangun tidur sampai tertidur kembali menjadi aktifitas dakwah. Bahkan (kalau bisa) tidurnya seorang kader pun menjadi aktifitas dakwah. Karena, masih banyak orang-orang diluar sana yang belum 'tercerahkan' dengan indahnya ekonomi Islam. Padahal di lain sisi para pengusung ekonomi kapitalis mengorbankan waktu tidurnya untuk terus menyebarkan ke-kapitalisme-an mereka. Wallahu'alam.

28 Maret 2009

Al fahm, Fondasi awal ber-Islam


Al fahm, Fondasi awal ber-Islam

Sebenarnya bahasan ini sudah saya terima dan pernah sama-sama kami bahas dalam atmosfer-atmosfer cinta beberapa tahun lalu, kalau tidak salah ketika kami sama-sama duduk di bangku sekolah menengah atas dan memang lagi ghiroh-ghirohnya untuk tarbiyah. Buku yang menjadi rujukan kami ketika itu adalah "Risalah Pergerakan"-nya Imam Syahid Hasan Al Banna. Tapi mungkin karena memang ketika itu kami (kami atau saya ya? Hehe..) nggak terlalu menyimak, mendalami, memahami dan mengamalkannya jadi sebagian besar bahasan menguap sudah.

Namun malam tadi, kembali kami (dengan formasi yang berbeda) membahas urutan Arkanul Bai'at-nya Imam Syahid. Sekilas memori-memori kenangan bahasan Al fahm ketika SMA muncul kembali seperti kilauan cahaya dalam pikiran saya. Mungkin ada benarnya pepatah yang mengatakan bahwa "belajar ketika kecil bagaikan mengukir di atas batu". Artinya, meskipun sesulit apapun untuk memahaminya tapi kalau kembali diingat-ingat maka akan muncul memori-memori yang sempat tersimpan.

Kembali ke pembahasan Al Fahm, kalau boleh saya copas (copy-paste) dari bukunya Imam Syahid, beliau menyebutkan bahwa,
Al-Fahm adalah hendaknya Anda yakin bahwa fikrah kita adalah fikrah Islamiyah yang murni, dan Anda memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas Ushulul ‘Isyrin (20 prinsip) yang sangat ringkas ini.

Saya mengira pada tujuan awalnya, Arkanul Bai'at ini hanya khusus bagi mereka-mereka yang berkomitmen (berbai'at) untuk menjadi kader dari Jamaah Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan oleh Imam Syahid sendiri. Akan tetapi dari diskusi yang kami lakukan dengan pertama-tama membahas Al Fahm yang merupakan rukun pertama dari Arkanul Bai'at, kami tidak menemukan satu kalimat-pun –entah itu dari pengertian Al Fahm sendiri maupun dari point-point Ushulul 'Isyrin– yang menerangkan bahwa bai'at ini adalah bai'at untuk jamaah IM.

Bahkan yang saya temukan di dalamnya, seolah-olah Imam Syahid sebenarnya tidak membentuk jamaah (harokah) baru, dalam hal ini IM. Hal ini bisa terlihat dari salah satu prinsip dari Ushulul "Isyrin, yaitu pada Prinsip ke-8
Khilaf dalam masalah fiqih furu' (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.

Bisa juga dilihat pada prinsip ke-20

Kita tidak mengkafirkan seorang muslim, yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagianpenting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur'an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur


Saya bisa mengambil kesimpulan bahwa, yang ingin ditekankan oleh Imam Syahid dalam rukun pertama dari Arkanul Bai'at ini adalah yang pertama, beliau tidak mengedepankan IM-nya, tapi lebih mengedepankan Islam-nya. Karena dalam rukun yang pertama ini tidak ditemukan penekanan untuk memahami IM, tetapi lebih dari itu, yaitu mengedepankan kepentingan jamaáh (Islam) atas kepentingan harakah (gerakan).

Kedua, agar setiap muslim (baik itu kader IM ataupun bukan) untuk memahami dan berbai'at kepada Islam harus diawali pemahaman. Artinya, mengawali iman dan amal dengan ilmu. Misalnya, seorang muslim yang hendak melakukan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, haji, dll seharusnya diawali dari pemahaman mengapa dia melakukan ibadah, kemudian pahami ilmu-ilmu untuk beriman dan beribadah. Karena bisa jadi kebanyakan dari kita melakukan sholat hanya sebatas ritual belaka tanpa didasari oleh ilmu dan pemahaman.

Ketiga, Bisa dikatakan bahwa Imam Syahid sebenarnya tidak bertujuan mendirikan harokah baru, namun ingin menghimpun harokah-harokah yang ada menjadi satu kesatuan untuk berjuang menegakkan Islam bersama-sama. Oleh karena itu bisa jadi nama "Ikhwanul Muslimin" yang terjemahannya adalah "Persaudaraan Islam" adalah bertujuan untuk mempersaudarakan dan mempersatukan harokah-harokah yang ada (ketika itu). Karena kalau melihat kondisi ketika itu bahwa setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Usmani, umat Islam menjadi terpecah belah dan membentuk negara-negara sendiri serta harokah-harokah tersendiri. Oleh karena itu, bisa kita lihat dalam Ushulul 'Isyrin, sebagian besar isinya adalah tentang kesatuan jamaah umat Islam.

Sebagai penutup, bahwa rukun pertama dari Arkanul Bai'at yaitu Al Fahm merupakan sesuatu hal yang mutlak yang wajib dimiliki oleh setiap individu muslim. Karena dengan pemahaman, akan menjadi efek domino untuk menjalankan rukun-rukun selanjutnya. Juga, dengan pemahaman inilah, baik itu lintas individu, kelompok, harokah maupun jamaah secara menyeluruh,Islam bisa ditegakkan dengan sempurna. (wallahu'alam)

23 Maret 2009

Nenek2 aja ikut DS.. yang muda mana negh?!

Sorry bukan mw kampanye... tapi pengen berbagi aja realita di lapangan...
































Ibu Rohimah (62) terus semangat mengikuti direct selling salah satu partai politik peserta pemilu.. Dengan berbekal contoh surat suara dan ditemani 2 orang calon anggota DPR-RI dan DPRD DKI Jakarta dan beberapa kader dari partai yang bersangkutan, beliau semangat berkeliling di lingkungan warga Pejaten Barat untuk memberi pencerdasan pemilu. Panasnya sinar matahari yang menyengat (13.00) tidak melunturkan semangat beliau.. "Cemangad Nek! Jangan mw kalah sama kepanduan, korsad atau santika...!!! ALLAHU AKBAR!!!"

telah banyak kata-kata terlontarkan sia-sia
tanpa aksi nyata...

Jangan Sekedar Kata...
buktikan dengan aksi nyata..
Pilih partai yang terbukti Bersih
untuk Indonesia Sejahtera.
ALLAHU AKBAR!!!

Jangan sampai GOLPUT, bukan masalah halal atau haram,
tapi karena oposisi Islam ingin menguasai negeri ini!

14 Maret 2009

Penawaran lelang

PENAWARAN LELANG

PENGURUS PUSAT MASYARAKAT EKONOMI SYARIAH akan mengadakan lelang program kegiatan untuk pengembangan dan sosialisasi ekonomi syariah. Spesifikasi program sebagai berikut:

Nama Kegiatan

Dialog Visi Capres terhadap Ekonomi Syariah

Deskripsi

Kegiatan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang visi para calon presiden terhadap ekonomi syariah dan UMKM, lebih khusus lagi dalam bidang wakaf tunai.

Acara TV yang dijadikan benchmark adalah “Pengusaha bertanya Partai Menjawab” yang disiarkan di Metro TV kerjsama dengan KADIN bulan Februari 2009.

Tempat

Metro TV dan atau TV One

Waktu Pelaksanaan

Akhir Mei 2009

Modal Dana

Ditanggung Sepenuhnya oleh EO

Persentase Bagi hasil MES-EO

30:70 dari keuntungan bersih

Host / Icon

Sahabat Ekonomi Syariah Indonesia yang direkomendasi oleh MES

Nama Kegiatan

Golf Wakaf Cup

Deskripsi

Salah satu tindak lanjut dari kegiatan Dialog Visi Capres terhadap Ekonomi Syariah adalah pelaksanaan kompetisi Golf Wwakaf Cup yaitu keikutsertaan para capres untuk mengikuti Golf wakaf cup.

Dana yang berhasil dikumpulkan melalui kegiatan ini akan dialokasikan dalam bentuk “WAKAF TUNAI PRODUKTIF”.

Waktu Pelaksanaan

Juni 2009

Modal Dana

Ditanggung Sepenuhnya oleh EO

Persentase Bagi hasil MES-EO

30:70 dari keuntungan bersih

Host / Icon

Sahabat Ekonomi Syariah Indonesia yang direkomendasi oleh MES

Bagi penyedia jasa event organizer yang berminat mengikuti pelelangan, silahkan mengirimkan proposal penawaran program kegiatan ke:

Kantor Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah

Jl. Setia Budi Tengah No 29, Setia Budi, Kuningan Jakarta 12910.

Telp : 021 5290 1515,

Fax : 021 5290 1516.

UP : FARIZAL

e-mail : farizal@ekonomisyariah.org

Batas akhir penawaran sampai 30 Maret 2009.

Ttd

Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah