12 Februari 2011

Berjuang dengan Jamaah

Perlawanan, perjuangan, konfrontasi, atau apapun namanya tidak bisa dilakukan sendirian. Perjuangan itu harus dilakukan secara kolektif, terorganisir, saling mengisi dan saling melengkapi. Berjamaah, layaknya ribuan rintik-rintik hujan yang tertiup angin kencang hingga menghasilkan badai dan dapat menumbangkan pepohonan, menenggelamkan rumah dan menghanyutkan kendaraan. Berjamaah, layaknya himpunan lidi-lidi yang menyatu dalam ikatan kokoh sehingga dapat menyapu kotoran-kotoran pengganggu. 

Andai saja tetesan air itu datang sendiri-sendiri tentulah tiada berharga dan tiada berpengaruh apa-apa. Andaikan lidi-lidi itu berserak di halaman rumah yang kotor tentulah hanya akan menambah kekotoran halaman tersebut. Itulah filosofi pergerakan. 

Satu lagi, bahwa pergerakan untuk melakukan perlawanan, konfrontasi dan perjuangan melawan kebathilan yang telah mendarah daging tidak dapat dilakukan sehari dua hari. Ia harus digerakkan secara konsisten (istimroriyyah/sustainable). Setiap keletihan, luka, bahkan pengorbanan yang dilakukan tiada sia-sia.

Seperti perjuangan rakyat Mesir untuk menundukkan rezim diktator yang telah mengakar selama 30 tahun. Perjuangan mereka tidak dilakukan sehari dua hari. Tapi berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun sampai menuju momentum yang tepat hingga kemenangan tiba. 

Jamaah yang solid adalah jamaah yang terorganisir, konsisten dan terikat dalam ikatan yang kokoh. Kuat dalam diri, kuat pula diluar. Hingga batu-batu pun hancur berantakan.

11 Februari 2011

Iman dan tindakan berekonomi

Iman, kadang tidak rasional. Bahkan iman bisa bertolak belakang dengan iman. Rasional di sini tentunya mengambil dari referensi barat yang sekarang telah menjadi pandangan umum ummat manusia. Iman, yang membuat amarah Umar berubah menjadi tangisan taubat. Iman pula yang membuat Abu Bakar hanya meninggalkan Allah dan Rasul-nya untuk menghidupi keluarganya, sedang hartanya ia sumbangkan semua untuk dakwah Islam. Sehingga iman menjadi perisai Mus'ab bin Umair rela berdiri di tumpukan nyawa sang ibu.

Ketika iman telah meresap dalam hati, diucapkan dengan lisan maka akan tercermin dari amal perbuatan. Segala perilakunya tentu harus persetujuan Allah yang diimaninya. Mulai dari ketaatan ibadah, hingga tingkah taku sesama manusianya. Sehingga mustahil orang yang beriman melanggar perintah-Nya dan mengerjakan hal yang dilarang-Nya Karena ketika ia dalam kondisi seperti itu, maka iman telah hilang dari dirinya.

Termasuk iman dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Segala perilaku yang ia kerjakan harus sesuai dengan apa yang telah digariskannya. Tiada lagi tawar-menawar mencari pembenaran hingga keringanan untuk sedikit melanggar sesuatu yang dilarang. Karena kalau ia melanggar, maka BOHONG besar apabila ia beriman. Apakah Bilal lantas meminta keringanan untuk menyatakan bahwa Latta dan Uzza adalah tuhannya hanya karena tubuhnya ditindih batu besar di padang pasir pada saat matahari menyengat dengan panasnya? 

Itulah iman yang tak bisa ditawar bahkan meminta keringanan untuk sekedar menabung di bank haram karena fasilitas, kemudahan atau sekedar luasnya jaringan. Karena lawan dari iman adalah kafir. Kafir yang diibaratkan Allah seperti seseorang yang berada di lautan luas di malam hari, diliputi ombak yang diliputi ombak lagi dan dinaungi awan yang gelap. Hingga ia tidak bisa membedakan yang halal dan haram, yang manfaat atau mudharat.




10 Februari 2011

Hujan...

Hujan memang membawa kesan tersendiri. Kehadirannya menjadi rasa tersendiri bagi tiap orang yang bisa jadi saling bertolak belakang. Sang petani bisa saja senang dengan kehadiran hujan, yang menjadi pencerah bagi padi-padinya untuk sekedar melepas haus. Si pekerja mungkin akan menggerutu dengan kehadirannya yang menandakan bahwa ia tidak akan cepat tiba di rumah karena sebagian jalan yang akan ia lalui tergenang karena jatuhnya ribuan rintik-rintik air yang sangat deras. 

Namun... Marilah kita sekedar merenung dan diam sejenak. Rasakan dalam-dalam ketika hujan datang. Pejamkan mata. Rasakan iramanya sambil mencium wangi tanah yang seharian di terpa matahari lalu kemudian diserang ribuan titik-titik air membasahi dan membersihkan. Mari tenggelamkan jiwa, pasang telinga pada hati dan berkelanalah dalam ruang sanubari. Dengarkan semua suaranya, cermati getaran dan warna-warni aromanya  Ada apa disana?

Memang pada dasarnya hujan itu hanya tetesan air, tetapi ia menjadi lain ketika tetesan air itu tidak hanya sendiri tetapi berjamaah pada satu tempat dan waktu yang sama. Frekwensi tetesan air juga menentukan apakah ia hanya hujan kecil atau gerimis, dan ada angin yang mengiringinya pun membuat hujan mejadi naik ke level yang lebih tinggi, bukan sekedar gerimis atau hujan deras tetapi menjadi hujan badai. 

Dari hujan kita dapat belajar keberjamaahan. Bahwa ketika tetesan air itu sendiri, maka tidak bisa disebut hujan dan tiada berartinya. Namun ketika tetesan air itu banyak, maka bukan hanya gerimis dan hujan lebat, badai pun bisa dibuat olehnya. Dari hujan, ia mengajarkan bahwa sebuah pergerakan yang memiliki kekuatan yang luar biasa dan memberikan hasil yang tak kalah luar biasa adalah kerja berjamaah, bukan infiradi. Kerja jamaah, telebih jamaah dakwah yang menghimpun semua potensi untuk kemudian dikeluarkan pada waktu yang bersamaan dan tempat yang sama sehingga mendapatkan hasil akan merubah wajah dunia. Seperti hujan, kerja bersama tetes-tetes air pada satu irama, waktu dan tempat yang sama membuat tak ada sejengkal bumi pun yang tidak basah, udara menjadi lebih bersih. Bahkan dengan angin, perubahan akibat hujan menjadi lebih nyata dan berbeda.

26 Januari 2011

Profil Kader Dakwah SMAN 49 (4)

Alumni
Tahun ke-1

Profil: Murabbi, Pengelola Da’wah di SLTP, Adaptasi Kampus/ Dunia Kerja.
Target Dakwah (Intensifikasi Kader): Terjadi percepatan pemahaman fikrul Islami, dakwah dan harakah, termasuk berbagai aliran politik dan ideologi, Terjadi percepatan kemampuan sebagai trainer, pelatihan skill, organisasi, murabbi, mudarib mukhayam, dsb. Terjadi percepatan kader muballig/muwajjih tablighi dan murabbi dan    Memiliki wawasan yang sempurna mengenai dakwah sekolah.

Tahun ke-2
Profil: Murabbi, Pengurus IAR SMAN 49 Jakarta, Staff pengurus organisasi kampus.
Target Dakwah (Intensifikasi Kader): Kelanjutan percepatan pada Alumni Tahun ke-1.

Tahun ke-3
Profil: Murabbi, Pengurus inti IAR SMAN 49 Jakarta, Pengelola organisasi di kampus.
Target Dakwah (Intensifikasi Kader): Kelanjutan percepatan pada Alumni Tahun ke-2.

19 Januari 2011

Profil Kader Dakwah SMAN 49 (3)

Kelas XII SMA.
Profil:
Pelaku perubahan informal.
Menjadi mentor (pembimbing) dalam kegiatan mentoring Agama Islam yang diselenggarakan oleh Rohis.
Memprioritaskan kegiatan dakwah pada dakwah fardiyyah (pendekatan personal) terhadap teman--temannya.

16 Januari 2011

Profil Kader Dakwah SMAN 49 (2)

Kelas XI SMA
Profil:
Pelaku utama perubahan.
Kelas XI merupakan pelaku utama perubahan dalam sekolah karena mereka adalah pengurus inti berbagai organisasi formal dan informal di sekolah. Intensitas interaksi mereka secara formal dan individual lebih kuat ke segenap elemen sekolah: siswa, guru, karyawan sekolah, dsb.

08 Januari 2011

Profil Kader Dakwah SMAN 49 (1)

Kelas X SMA:
Profil:
Objek utama perubahan.
Siswa kelas X adalah obyek utama dakwah. Karena ia memiliki potensi hanifiyah yang relatif lebih tinggi, belum terkontaminasi, adanya perasaan sebagai yunior/ anak baru, belum banyak kesibukan, tekanan akademik yang relatif masih ringan dibanding kakak kelasnya di kelas XI & XII.