Awal mulanya cerita, saya beserta istri baru pindah beberapa pekan di kota yang kami tinggali sekarang. Untuk mempermudah mobilitas dan transportasi kami memutuskan datang ke salah satu dealer motor dekat kediaman kami untuk membeli sepeda motor, tipe 'betik' (bebek metik) keluaran terbaru (sampai dengan saat ini setahu dan sepengelihatan saya dan istri, kami belum pernah melihat motor dengan tipe yang sama berkeliaran di kota ini, entah karena memang promosinya yang kurang atau memang belum ada minat dari masyarakatnya). Kami pun sepakat kredit motor, karena untuk tunai belum ada anggaran.
Singkat cerita, kami pun pergi kemana-mana dengan betik tersebut, tentunya dengan menggunakan helm walau plat nomor motor belum ada karena sedang dalam proses di dealernya. Kami lihat banyak orang 'seliweran' di depan petugas polisi dan pos polisi dengan tanpa menggunakan helm. Saya heran, mengapa petugas polisi tersebut tidak menilangnya? Mungkin masih jalanan 'kampung'. Akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa boleh tidak pakai helm karena memang jalanan tersebut masih 'jalan kampung'. Hal tersebut didukung kondisi jalan yang memang rusak dan banyak lubang. Sehingga lama kelamaan kami tidak memakai helm lagi jika hanya melewati 'jalan kampung' tersebut, disamping tidak kena tilang juga karena agak berat dan panas jika harus memakai helm (sepakat tak?!)
Setelah beberapa hari kami seliweran di depan polisi itu dan tidak pernah kena tilang. Polisi mendiamkan dan tanpa ada reaksi. Bukan hanya para pengendara motor yang melanggar yang didiamkan, tapi juga ketika lalu-lintas macet dan para pengendara tidak ada yang mau mengalah. Mereka hanya diam menonton. Sehingga kadang saya tertawa dalam hati melihat kondisi yang ada.