25 Oktober 2016

Belajar dari Burung Hud-hud

Ada layaknya kita buka lembaran kisah yang sangat agung yang terukir dalam Al Quran mulia, yang setiap baris ayatnya menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Kisah yang terukir dalam QS An Naml 22-24. 
"Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk"

Burung hud-hud merupakan jundi (prajurit) Nabi Sulaiman AS, yang punya karakter seperti qiyadahnya (pemimpin). Karakter tersebut tergambar pada ayat di atas yaitu karakter dalam menyebarkan visi Islam ke seluruh penduduk bumi. Perlunya internalisasi visi dan misi seorang qiyadah kepada para jundi-jundi menjadi sangatlah penting untuk diketahui. 

Visi Nabi Sulaiman AS adalah mengislamkan seluruh negeri. Hud-hud seorang jundi telah faham dan mengerti bagaimana visi tersebut dapat terealisasi, oleh karenanya dia melakukan perjalanan yang amat jauh (ulama tafsir menyatakan perjalanan antara Palestina ke Yaman), untuk melihat kondisi medan dakwah apakah masih ada orang-orang yang belum tersentuh dengan dakwah.

Hud-hud memenuhi seluruh kehidupannya untuk mewujudkan visi yang agung tersebut, walaupun ancaman dan bahaya menghadang. Hud-hud yang seorang (lebih cocok seekor) jundi berani menyatakan sesuatu kebenaran yang belum diketahui oleh qiyadahnya. kebenaran yang penting yang perlu diketahui untuk kemudian diambil sebuah keputusan dalam mendukung visi tersebut. Itulah salah satu karya besar Hud-hud dalam dakwah, yang dengan kebenarannya satu negeri (saba') dapat menikmati keindahan Islam setelah mereka diperbudak syaitan dengan menyembah matahari.

Berkaca pada diri kita sendiri dari kisah Hud-hud di atas, sejauh mana pemahaman kita terhadap visi dan misi yang telah Allah tentukan. Visi dan misi yang sudah digariskan Rasulullah Sallahu 'alaihi wasallam. Sebesar apa kontribusi kita dalam melaksanakannya tersebut agar Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seberapa banyak karya-karya kita demi memberikan hak orang lain untuk menikmati Islam, seperti karya Hud-hud yang memberikan hak Ratu Bilqis untuk menggapai hidayah. Karya kita sudah ditunggu, hak masyarakat harus kita berikan, yaitu dakwah Islam. 

Farizal Alboncelli

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada yang mau berpendapat?